Senin, 05 Maret 2012

Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Tumbuhan


Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan berbeda dengan hewan. Pada

hewan, pertumbuhan dan perkembangan terjadi di seluruh bagian tubuh,

sedangkan pada tumbuhan, pertumbuhan dan perkembangan hanya pada bagian

tertentu saja.

Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan berbiji diawali dengan

pertemuan antara sel kelamin jantan dan sel kelamin betina, menjadi biji,

berkecambah, tumbuh menjadi tanaman kecil yang sempurna, dan berlanjut

tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan dewasa. Tumbuhan dewasa akan

berbunga dan berbuah.

  1. Pertumbuhan Terminal

Pada ujung akar dan batang tumbuhan berbiji yang sedang aktif tumbuh,

terdapat tiga daerah pertumbuhan dan perkembangan. Daerah tersebut adalah

daerah pembelahan, daerah pemanjangan, dan daerah diferensiasi.

Gambar

Gambar 1.2 Daerah pembelahan, daerah pemanjangan, dan daerah diferensiasi.

Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Tumbuhan

Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan berbeda dengan hewan. Pada

hewan, pertumbuhan dan perkembangan terjadi di seluruh bagian tubuh,

sedangkan pada tumbuhan, pertumbuhan dan perkembangan hanya pada bagian

tertentu saja.

Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan berbiji diawali dengan

pertemuan antara sel kelamin jantan dan sel kelamin betina, menjadi biji,

berkecambah, tumbuh menjadi tanaman kecil yang sempurna, dan berlanjut

tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan dewasa. Tumbuhan dewasa akan

berbunga dan berbuah.

1. Pertumbuhan Terminal

Pada ujung akar dan batang tumbuhan berbiji yang sedang aktif tumbuh,

terdapat tiga daerah pertumbuhan dan perkembangan. Daerah tersebut adalah

daerah pembelahan, daerah pemanjangan, dan daerah diferensiasi.

Gambar 1.2 Daerah pembelahan, daerah pemanjangan, dan daerah

diferensiasi.

Daerah Pembelahan, merupakan daerah yang paling ujung. Pada daerah ini

terutama terjadi pembentukan sel-sel baru melalui pembelahan sel. Sel-sel di

daerah pembelahan memiliki inti sel yang relatif besar, berdinding sel tipis, dan

aktif membelah diri. Daerah pembelahan disebut pula daerah meristematik.

Daerah Pemanjangan, merupakan hasil pembelahan sel-sel meristem di daerah

pembelahan. Sel-sel hasil pembelahan tersebut akan bertambah besar ukurannya

sehingga membentuk daerah pemanjangan. Sel-sel pada daerah ini lebih besar

dibandingkan dengan sel-sel pada daerah meristem. Daerah Diferensiasi,

terletak di belakang daerah pemanjangan. Sel-sel di daerah ini telah mengalami

diferensiasi. Artinya sel-sel telah berubah bentuk sesuai fungsinya. Sebagian sel

mengalami diferensiasi menjadi epidermis, korteks, empulur, xilem dan floem.

Sebagian sel lagi mengalami diferensiasi menjadi jaringan parenkim (jaringan

dasar), jaringan penunjang seperti kolenkim dan sklerenkim. Dengan terjadinya

diferensiasi sel maka terbentuklah berbagai jaringan tumbuhan.

Pertumbuhan pada tumbuhan dapat dibedakan menjadi pertumbuhan primer dan

sekunder

.

Gambar 1.3 Pertumbuhan primer pada ujung batang dan akar.

Pertumbuhan Primer, merupakan pertumbuhan yang disebabkan oleh kegiatan

titik tumbuh primer. Titik tumbuh primer terdapat pada ujung akar atau ujung

batang. Titik tumbuh primer telah mulai terbentuk sejak tumbuhan masih berupa

embrio. Ujung akar dan ujung batang tempat terjadinya pertumbuhan merupakan

daerah meristem apikal. Pertumbuhan primer menyebabkan batang dan akar

bertambah panjang.

Berdasarkan titik tumbuh tumbuhan, terdapat dua teori titik tumbuh pada

tumbuhan, yaitu :

1) Teori Histogen

Teori ini dikemukakan oleh Hanstein. Teori ini menyatakan bahwa

pertumbuhan organ tubuh tumbuhan dibentuk oleh tiga lapisan pembentuk

jaringan, yaitu:

a) Dermatogen, yakni lapisan luar yang membentuk epidermis.

b) Periblem, yakni lapisan dalam yang membentuk korteks.

c) Pleuron, yakni lapisan dalam yang membentuk stele.

2) Teori Tunika Korpus

Teori ini dikemukakan oleh Schmidt yang menyatakan bahwa pertumbuhan

organ tubuh tumbuhan yang dibentuk ada dua lapisan pembentuk jaringan,

yaitu :

a) Tunika, yakni lapisan luar yang membentuk epidermis dan korteks.

b) Corpus, yakni lapisan dalam yang membentuk stele.

Pertumbuhan Sekunder, merupakan pertumbuhan yang disebabkan oleh kegiatan

jaringan kambium. Jaringan kambium bersifat meristematik, yaitu sel-selnya

selalu aktif membelah. Kambium hanya terdapat pada tumbuhan dikotil dan

gymnospermae. Pertumbuhan sekunder menyebabkan diameter batang

bertambah besar (Gambar 1.4). Pada tumbuhan dikotil berkayu, pertumbuhan

sekunder terjadi karena adanya aktivitas sel-sel meristem diantara xilem dan

floem. Xilem dibentuk ke arah dalam dan floem dibentuk ke arah luar.

Pertumbuhan di bagian dalam lebih cepat daripada pertumbuhan di bagian luar,

sehingga mengakibatkan jaringan epidermis dan korteks pada kulit terluar akan

rusak (pecah).




Gambar 1.4 Pertumbuhan sekunder pada batang dikotil.

2. Metagenesis Pada Tumbuhan

Metagenesis merupakan pergiliran daur hidup antara generasi generatif dan

generasi vegetatif. Biasanya kedua generasi ini berbeda morfologinya.

Metagenesis pada tumbuhan yang bisa kita lihat dengan jelas yaitu pada

tumbuhan lumut dan paku. Lumut dan paku memiliki generasi generatif yang

disebut gametofit dan generasi vegetatif yang disebut sporofit.

Tumbuhan lumut yang sering kita lihat merupakan generasi gametofit.

Generasi sporofitnya tergantung pada gametofit untuk memperoleh nutrisi.

Sedangkan tumbuhan paku yang sering kita lihat merupakan generasi sporofit.

Generasi sporofitnya yaitu protalium.



Gambar 1.5 Metagenesis pada tumbuhan lumut.

Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Hewan

Pertumbuhan dan perkembangan pada hewan terjadi di seluruh bagian

tubuhnya. Biasanya pertumbuhan dan perkembangan ini diawali dari proses

fertilisasi.

Pertumbuhan dan perkembangan pada hewan termasuk manusia dapat dibedakan

menjadi dua fase utama, yaitu pertumbuhan dan perkembangan embrionik serta

pertumbuhan dan perkembangan pasca embrionik.

1. Pertumbuhan dan Perkembangan Embrionik

Pertumbuhan dan perkembangan embrionik adalah fase pertumbuhan dan

perkembangan makhluk hidup selama masa embrio yang diawali dengan

peristiwa fertilisasi sampai dengan terbentuknya janin di dalam tubuh induk

betina. Fase fertilisasi adalah pertemuan antara sel sperma dengan sel ovum

dan akan menghasilkan zygote. Zygote akan melakukan pembelahan sel

(cleavage). Zigot selanjutnya mengalami pertumbuhan dan perkembangan

melalui tahap-tahap yaitu pembelahan, gastrulasi, dan organogenesis.


Gambar 1.6 Pertumbuhan dan perkembangan embrionik.

Pembelahan (cleavage). Zigot akan mengalami pembelahan secara mitosis,

yaitu dari satu sel menjadi dua sel, dua sel menjadi empat sel, empat sel

menjadi delapan sel, dan seterusnya. Pembelahan sel tersebut berlangsung

cepat dan akan menghasilkan sel-sel anak yang tetap terkumpul menjadi satu

kesatuan yang menyerupai buah anggur yang disebut morula. Dalam

pertumbuhan selanjutnya, morula akan menjadi blastula yang memiliki suatu

rongga. Proses pembentukan morula menjadi blastula disebut blastulasi.

Morula adalah suatu bentukan sel sperti bola (bulat) akibat pembelahan sel

terus menerus. Keberadaan antara satu dengan sel yang lain adalah rapat.

Morulasi yaitu proses terbentuknya morula. Blastula adalah bentukan

lanjutan dari morula yang terus mengalami pembelahan. Bentuk blastula

ditandai dengan mulai adanya perubahan sel dengan mengadakan pelekukan

yang tidak beraturan. Di dalam blastula terdapat cairan sel yang disebut

dengan Blastosoel. Blastulasi yaitu proses terbentuknya blastula.

Gastrula adalah bentukan lanjutan dari blastula yang pelekukan tubuhnya

sudah semakin nyata dan mempunyai lapisan dinding tubuh embrio serta

rongga tubuh. Gastrula pada beberapa hewan tertentu, seperti hewan tingkat

rendah dan hewan tingkat tinggi, berbeda dalam hal jumlah lapisan dinding

tubuh embrionya. Triploblastik yaitu hewan yang mempunyai 3 lapisan dinding

tubuh embrio, berupa ektoderm, mesoderm dan endoderm. Hal ini dimiliki

oleh hewan tingkat tinggi seperti Vermes, Mollusca, Arthropoda,

Echinodermata dan semua Vertebrata. Diploblastik yaitu hewan yang

mempunyai 2 lapisan dinding tubuh embrio, berupa ektoderm dan endoderm.

Dimiliki oleh hewan tingkat rendah seperti Porifera dan Coelenterata.

Gastrulasi yaitu proses pembentukan gastrula.

Gastrulasi. Dalam perkembangan selanjutnya, blastula akan menjadi gastrula.

Proses pembentukan gastrula disebut gastrulasi. Pada bentuk gastrula ini,

embrio telah terbentuk menjadi tiga lapisan embrionik, yaitu lapisan bagian

luar (ektoderm), lapisan bagian tengah (mesoderm), dan lapisan bagian dalam

(endoderm). Jadi gastrulasi merupakan proses pembentukan tiga lapisan

embrionik. Dalam perkembangan selanjutnya lapisan embrionik akan

mengalami pertumbuhan dan perkembangan menghasilkan berbagai

organtubuh.

Organogenesis. Organogenesis merupakan proses pembentukan alat-alat

tubuh atau organ seperti otak, jantung, paru-paru, ginjal, hati, dan

sebagainya. Ektoderm akan mengalami diferensiasi menjadi kulit, rambut,

sistem saraf, dan alat-alat indera. Mesoderm akan mengalami diferensiasi

menjadi otot, rangka, alat reproduksi (seperti testis dan ovarium), alat

peredaran darah. Dan alat ekskresi. Endoderm akan mengalami diferensiasimenjadi alat pencernaan, kelenjar yang berhubungan dengan pencernaan, dan

alat-alat pernapasan. Organogenesis merupakan proses yang sangat

kompleks.

Pada mammalia, embrionya memiliki selaput embrio, yaitu amnion, korion,

sakus vitelinus, dan alantois. Selaput embrio berfungsi melindungi embrio

terhadap kekeringan, goncangan, membantu pernapasan, ekskresi, serta

fungsi penting lainnya selama berada di dalam rahim induknya.

2. Pertumbuhan dan Perkembangan Pasca Embrionik

Pertumbuhan dan perkembangan pasca embrionik adalah pertumbuhan dan

perkembangan setelah masa embrio. Pada masa ini pertumbuhan dan

perkembangan yang terjadi terutama penyempurnaan alat-alat reproduksi

(alat-alat kelamin), dan biasanya pula hanya terjadi peningkatan ukuran

bagian-bagian tubuh saja.

Pada golongan hewan tertentu sebelum tumbuh menjadi hewan dewasa,

membentuk tahap larva terlebih dahulu. Pada golongan hewan tersebut

pertumbuhan dan perkembangan pasca embrionik merupakan tahap

pembentukan larva sebelum tumbuh dan berkembang menjadi hewan dewasa.

Pertumbuhan dan perkembangan pasca embrionik yang melalui tahap larva ini

dikenal dengan metamorfosis.

Contoh hewan yang mengalami metamorfosis adalah serangga dan katak.

Metamorfosis dan Metagenesis pada Hewan

Metamorfosis adalah perubahan bentuk tubuh yang dialami oelh hewan dari

tahap larva hingga mencapai bentuk dewasa.

1. Metamorfosis pada Serangga

Pada beberapa serangga seperti kupu-kupu, lalat, nyamuk, lebah, dan

kumbang, bentuk larva dan dewasa sering hampir tdak ada kemiripan.

Sedangkan pada beberapa serangga lainnya seperti belalang, lipas (kecoa),

dan jangkrik, bentuk larva (nimfa) mirip bentuk dewasa. Pada proses

metamorfosis terjadi proses fisik, yaitu pergantian kulit yang disebut

molting. Serangga biasanya mengalami empat kali molting. Pada proses ini

terjadi pembentukan kulit baru dan membentuk alat-alat tubuh yang

diperlukan menjelang dewasa. Pada bentuk dewasa (imago) telah terjadi

perkembangan organ reproduksi sehingga sudah mampu untuk bereproduksi.

Berdasarkan kemiripan bentuk larva dan dewasa, metamorfosis pada

serangga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu metamorfosis sempurna dan

metamorfosis tidak sempurna.

Metamorfosis Sempurna (holometabola). Pada metamorfosis sempurna,

serangga dalam daur hidupnya mengalami perubahan-perubahan yang

mencolok pada bentuk luar dan organ tubuh dari berbagai stadiumnya.

Metamorfosis sempurna perubahannya adalah sebagai berikut :

Telur larva pupa (kepompong) imago (dewasa)

Telur menetas menjadi larva. Larva umumnya mengalami molting empat kali

sehingga terbentuk larva stadium satu hingga larva stadium empat. Contoh

serangga yang mengalami metamorfosis sempurna antara lain : kupu-kupu,

lalat, nyamuk, lebah dan kumbang.


Gambar 1.7 Metamorfosis pada kupu-kupu

Metamorfosis Tidak Sempurna (hemimetabola). Pada metamorfosis tidak

sempurna, serangga mengalami perubahan bentuk dari telur hingga dewasa

yang tidak mencolok dalam daur hidupnya.

2. Metamorfosis Katak

Pada awalnya, katak betina dewasa akan bertelur, kemudian telur tersebut

akan menetas setelah 10 hari. Setelah menetas, telur katak tersebut

menetas menjadi Berudu. Setelah berumur 2 hari, Berudu mempunyai insang

luar yang berbulu untuk bernapas. Setelah berumur 3 minggu insang berudu

akan tertutup oleh kulit. Menjelang umur 8 minggu, kaki belakang berudu

akan terbentuk kemudian membesar ketika kaki depan mulai muncul. Umur 12

minggu, kaki depannya mulai berbentuk, ekornya menjadi pendek serta

bernapas dengan paru-paru. Setelah pertumbuhan anggota badannya

sempurna, katak tersebut akan berubah menjadi katak dewasa.

3. Metagenesis

Metagenesis pada hewan pada dasarnya sama dengan metagenesis pada

tumbuhan. Hewan mengalami pergiliran generasi, yaitu fase generatif

(seksual) dan fase vegetatif (aseksual) secara bergantian.

Hewan yang mengalami metagenesis misalnya golongan Cnidaria. Contoh

hewannya yaitu Hydra dan Ubur-ubur. Perhatikan Gambar 1.13. Ubur-ubur

memiliki dua fase dalam daur hidupnya, yaitu medusa dan polip. Medusa

merupakan fase seksual (generatif) dan polip merupakan fase aseksual

(vegetatif).


Gambar 1.8 Metagenesis pada Obelia

Pertumbuhan dan Perkembangan pada Manusia

Setelah peristiwa fertilisasi, zygote akan berkembang menjadi embrio yang

sempurna dan embrio akan tertanam pada dinding uterus ibu. Hal ini terjadi

masa 6 – 12 hari setelah proses fertilisasi. Sel-sel embrio yang sedang

tumbuh mulai memproduksi hormon yang disebut dengan hCG atau human

chorionic gonadotropin, yaitu bahan yang terdeteksi oleh kebanyakan tes

kehamilan.

HCG membuat hormon keibuan untuk mengganggu siklus menstruasi normal,

membuat proses kehamilan jadi berlanjut.

Janin akan mendapatkan nutrisi melalui plasenta/ari-ari. Embrio dilindungi

oleh selaput-selaput yaitu :

1. Amnion yaitu selaput yang berhubungan langsung dengan embrio dan

menghasilkan cairan ketuban. Berfungsi untuk melindungi embrio dari

guncangan.

2. Korion yaitu selaput yang terdapat diluar amnion dan membentuk jonjot

yang menghubungkan dengan dinding utama uterus. Bagian dalamnya terdapat

pembuluh darah.

3. Alantois yaitu selaput terdapat di tali pusat dengan jaringan epithel

menghilang dan pembuluh darah tetap. Berfungsi sebagai pengatur sirkulasi

embrio dengan plasenta, mengangkut sari makanan dan O2, termasuk zat sisa

dan CO2.

4. Sacus vitelinus yaitu selaput yang terletak diantara plasenta dan amnion.

Merupakan tempat munculnya pembuluh darah yang pertama.

1. Tahap-tahap Perkembangan Manusia

a. Tahapan Perkembangan pada masa embrio

Bulan pertama : Sudah terbentuk organ-organ tubuh yang penting seperti

jantung yang berbentuk pipa, sistem saraf pusat (otak yang berupa gumpalan

darah) serta kulit. Embrio berukuran 0,6 cm.

Bulan kedua : Tangan dan kaki sudah terbentuk, alat kelamin bagian dalam,

tulang rawan (cartilago). Embrio berukuran 4 cm.

Bulan ketiga : Seluruh organ tubuh sudah lengkap terbentuk, termasuk

organ kelamin luar. Panjang embrio mencapai 7 cm dengan berat 20 gram.

Bulan keempat : Sudah disebut dengan janin dan janin mulai bergerak aktif.

Janin mencapai berat 100 gram dengan panjang 14 cm.

Bulan kelima : Janin akan lebih aktif bergerak, dapat memberikan respon

terhadap suara keras dan menendang. Alat kelamin janin sudah lebih nyata

dan akan terlihat bila dilakukan USG (Ultra Sonographi).

Bulan keenam : Janin sudah dapat bergerak lebih bebas dengan

memutarkan badan (posisi)

Bulan ketujuh : Janin bergerak dengan posisi kepala ke arah liang vagina.

Bulan kedelapan : Janin semakin aktif bergerak dan menendang. Berat dan

panjang janin semakin bertambah, seperti panjang 35-40 cm dan berat 2500

3000 gram.

Bulan kesembilan : Posisi kepala janin sudah menghadap liang vagina. Bayi

siap untuk dilahirkan.

b. Tahap perkembangan pada masa anak-anak

Masa anak-anak dimulai sejak lahir (bayi) hingga masa remaja. Bayi sangat

membutuhkan air susu ibu (ASI). Sebaiknya ASI diberikan pada bayi selama

dua belas bulan sejak kelahiran. Hal ini karena bayi membutuhkan ASI selama

tahun pertama kehidupannya. Pada usia balita terjadi pertumbuhan sel-sel

otak, sehingga diperlukan makanan yang bergizi. Pada usia 6 bulan, gigi

pertama bayi akan tumbuh yang disebut gigi susu. Setelah sekitar usia 6

tahun, gigi susu akan tanggal secara bergantian dan digantikan oleh gigi

tetap.

Seiring dengan bertambahnya usia, bayi akan belajar duduk, merangkak,

berdiri dan berjalan. Otak tumbuh membesar dan bayi mulai berbicara.

Umumnya bayi mulai berjalan dan berbicara sekitar usia satu tahun. Pada usia

tiga tahun, anak-anak mulai berbicara kalimat pendek. Menjelang usia sepuluh

tahun anak-anak mulai mencari teman, mereka juga sudah tahu bagaimana

berbagi, melakukan tugas mereka dan bekerjasama.

c. Tahap perkembangan pada masa remaja (pubertas)

Pertumbuhan dan perkembangan manusia menjadi dewasa melalui satu tahap

yang disebut masa pubertas. Kata pubertas berasal dari kata latin yang

berarti usia menjadi orang, suatu periode dalam mana anak dipersiapkan

untuk mampu menjadi individu yang dapat melaksanakan tugas biologis berupa

melanjutkan keturunannya atau berkembang biak. Perubahan-perubahan

biologis berupa mulai bekerjanya organ-organ reproduktif dan disertai pula

oleh perubahan-perubahan yang bersifat psikologis. Pada masa ini baik lakilaki

atau perempuan menunjukkan pertumbuhan yang cukup cepat. Badan akan

bertambah tinggi, bertambah gemuk dan organ kelaminnya sudah mampu

menghasilkan sel kelamin yang matang.

Ciri-ciri Penting Periode Pubertas :

a) Pubertas merupakan periode transisi dan tumpang tindih. Dikatakan

transisi sebab pubertas berada dalam peralihan antara masa kanak-kanak

dengan masa remaja. Dikatakan tumpang tindih sebab beberapa ciri biologispsikologis

kanak-kanak masih dimiliknya, sementara beberapa ciri remaja

dimilikinya pula.

b) Pubertas merupakan periode terjadinya perubahan yang sangat cepat.

Perubahan dari bentuk tubuh kanak-kanak pada umumnya ke arah bentuk

tubuh orang dewasa. Terjadi pula perubahan sikap dan sifat yang menonjol,

terutama terhadap teman sebaya lawan jenis, terhadap permainan dan

anggota keluarga.

c) Tubuhnya mulai menunjukkan mekar-tubuh yang membedakannya dengan

tubuh kanak-kanak. Sebagian ciri pubertas yang dia miliki ditunjukkan dalam

sikap, perasaan, keinginan, dan perbuatan-perbuatan. Sikapnya yang paling

menonjol antara lain sikap tidak tenang dan tidak menentu.

d) Pertumbuhan dan perkembangan badannya, tumbuh normal, sesuai dengan

usianya. Berat badannya 40 kg, dan tinggi badannya.

e) Perkembangan organ-organ seks wanita ditandai dengan adanya haid

pertama atau “menarche” yang disertai dengan berbagai perasaan tidak enak

bagi yang mengalaminya.

f) Haid (menstruasi) yang pertama kali dia alami pada usia 9 tahun. Jika

dilihat dari usianya saat ia mengalami menstruasi, ia masih dalam masa kanakkanak

akhir.

g) Gejala yang mulai ditunjukkan dari dirinya yaitu :

- Pinggul yang membesar dan membulat

- Dada yang semakin nampak menonjol

- Tumbuhnya rambuh di daerah kelamin, ketiak, lengan dan kaki

- Perubahan suara dari suara kanak-kanak menjadi lebih merdu (melodius)

- Kelenjar keringat lebih aktif dan sering tumbuh jerawat

- Kulit menjadi lebih besar dibanding kulit anak-anak.

Penyebab munculnya pubertas ini adalah hormon yang dipengaruhi oleh

hipofisis (pusat dari seluruh sistem kelenjar penghasil hormon tubuh). Berkat

kerja hormon ini, remaja memasuki masa pubertas sehingga mulai muncul ciriciri

kelamin sekunder yang dapat membedakan antara perempuan dan lakilaki.

Dengan kata lain, pubertas terjadi karena tubuh mulai memproduksi

hormon-hormon seks sehingga alat reproduksi telah berfungsi dan tubuh

mengalami perubahan.

d. Tahap Perkembangan masa dewasa

Sebagai seorang individu yang sudah tergolong dewasa, peran dan tanggung

jawabnya tentu makin bertambah besar. la tak lagi harus bergantung secara

ekonomis, sosiologis ataupun psikologis pada orang tuanya. Mereka justru

merasa tertantang untuk membukukan dirinya sebagai seorang pribadi

dewasa yang mandiri. ‘Segala urusan ataupun masalah yang dialami dalam

hidupnya sedapat mungkin akan ditangani sendiri tanpa bantuan orang lain,

termasuk orang tua. Berbagai pengalaman baik yang berhasil maupun yang

gagal dalam menghadapi suatu masalah akan dapat dijadikan pelajaran

berharga guna mem-bentuk seorang pribadi yang matang, tangguh, dan

bertanggung jawab terhadap masa depannya. Secara fisik, seorang dewasa

muda (young adulthood) menampil-kan profil yang sempurna dalam arti bahwa

pertumbuhan dan perkembangan aspek-aspek fisiologis telah mencapai posisi

puncak. Mereka memiliki daya tahan dan taraf kesehatan yang prima

sehingga dalam melakukan berbagai kegiatan tampak inisiatif, kreatif,

energik, cepat, dan proaktif.

Secara umum, mereka yang tergolong dewasa muda (young) ialah mereka yang

berusia 20-40 tahun. Menurut seorang ahli psikologi perkembangan,

Santrock (1999), orang dewasa muda termasuk masa transisi, baik transisi

secara fisik (physically trantition) transisi secara intelektual (cognitive

trantition), serta transisi peran sosial (social role trantition).

Dari pertumbuhan fisik, menurut Santrock (1999) diketahui bahwa dewasa

muda sedang mengalami peralihan dari masa remaja untuk memasuki masa

tua. Pada masa ini, seorang individu tidak lagi disebut sebagai masa tanggung

(akil balik), tetapi sudah tergolong sebagai seorang pribadi yang benar-benar

dewasa (maturity). la tidak lagi diperlakukan sebagai seorang anak atau

remaja, tetapi sebagaimana layaknya seperti orang dewasa lain-nya.

Penampilan fisiknya benar-benar matang sehingga siap melakukan tugas-tugas

seperti orang dewasa lainnya, misalnya bekerja, menikah, dan mempunyai

anak. la dapat bertindak secara bertanggung jawab untuk dirinya ataupun

orang lain (termasuk keluarganya). Segala tindakannya sudah dapat dikenakan

aturan-aturan hukum yang berlaku, artinya bila terjadi pelanggaran,

akibat dari tindakannya akan memperoleh sanksi hukum (misalnya denda,

dikenakan hukum pidana atau perdata}. Masa ini ditandai pula dengan adanya

perubahan fisik, misalnya tumbuh bulu-bulu halus, perubahan suara,

menstruasi, dan kemampuan reproduksi.

e. Perkembangan pada masa lanjut usia

Pada tingkat kedewasaan menengah (40-65 th) manusia mencapai puncak

periode usia yang paling produktif . Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir

dari proses penuaan. Dalam mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia

menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada tiga aspek yang

perlu dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial

(BKKBN 1998). Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang

mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan

menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan

penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya

perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.

Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang sebagai beban dari

pada sebagai sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa kehidupan masa

tua tidak lagi memberikan banyak manfaat, bahkan ada yang sampai

beranggapan bahwa kehidupan masa tua, seringkali dipersepsikan secara

negatif sebagai beban keluarga dan masyarakat. Dari aspek sosial, penduduk

lanjut usia merupakan satu kelompok sosial sendiri. Di negara Barat,

penduduk lanjut usia menduduki strata sosial di bawah kaum muda.

Menurut Bernice Neugarten (1968) James C. Chalhoun (1995) masa tua

adalah suatu masa dimana orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya.

Tetapi bagi orang lain, periode ini adalah permulaan kemunduran. Usia tua

dipandang sebagai masa kemunduran, masa kelemahan manusiawi dan sosial

sangat tersebar luas dewasa ini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi 4

yaitu :

Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, Lanjut usia (elderly) 60 -74

tahun, lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun dan usia sangat tua (very old)

diatas 90 tahun. Sedangkan menurut Prayitno dalam Aryo (2002) mengatakan

bahwa setiap orang yang berhubungan dengan lanjut usia adalah orang yang

berusia 56 tahun ke atas, tidak mempunyai penghasilan dan tidak berdaya

mencari nafkah untuk keperluan pokok bagi kehidupannya sehari-hari.

Pada umumnya pada masa lanjut usia ini orang mengalami penurunan fungsi

kognitif dan psikomotorik. Menurut Zainudin (2002) fungsi kognitif meliputi

proses belajar, persepsi pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain yang

menyebabkan reaksi dan perilaku lanjut usia menjadi semakin lambat. Fungsi

psikomotorik meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak

seperti gerakan, tindakan, koordinasi yang berakibat bahwa lanjut usia

kurang cekatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar