Sabtu, 12 Mei 2012

PORTOFOLIO PTK


PENDAHULUAN


Dalam kegiatan pendidikan dewasa ini banyak persoalan yang harus di kaji oleh seorang guru untuk mengetahui kendala yang sering dihapi oleh banyak guru untuk memotivasi dan meningkatkan hasil belajar siswanya.
Diantara syarat profesionalisme guru adalah dapat membuat suatu karya tulis ilmiah, dan karya tulis ilmiah yang paling sesuai dengan profesi guru salah satunya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK menjadi begitu penting bagi guru karena diangkat dari permasalahan yang dihadapi guru dalam pembelajaran baik mengenai minat siswa,prestasi belajar siswa, metode guru mengajar,ketersediaan sarana prasarana penunjang pembelajaran maupun media pembelajaran yang digunakan oleh seorang guru.
Dalam  konteks  ini tuntutan untuk menjadi salah syarat dalam menempuh mata kuliah PTK khususnya program profesi guru di tuntut untuk menysun proposal penelitian tindakan kelas oleh karena itu, untuk dapat menyusun proposal penelitian kita harus menggunakan strategi analisis jurnal atau artikel tentang penelitian tindakan kelas terlebih dahulu, supaya kita dapat mengetahui persoalan dan cara untuk menghadapi nantinya.
Salah satu  tujuan utama dilaksanakannya PTK oleh seorang guru  adalah untuk mencari solusi dalam pembelajaran sehingga dapat memotivasi siswa dalam belajar, meningkatkan prestasi belajar siswa, meningkatkan ketrampilan, kreativitas dan profesionalisme guru dalam mengemabangkan pelajaran.
Beberapa hal sangat penting tentang PTK ialah bahwa PTK sebaiknya dilaksanakan secara kolaboratif  tetapi tidak mesti  harus kolaboratif ,PTK tidak mesti dilaksanakan dalam suatu ruangan tertutup tetapi bisa dilaksanakan  diluar ruangan .
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah salah satu mata kuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa program profesi guru (PPG) melalui jalur pendidikan pada workshop ini.
Dalam kegiatan workshop PTK ini hal–hal yang dipelajari adalah teori–teori dasar tentang PTK dan bagian–bagian dari PTK mulai dari judul, latar belakang masalah sampai pada analisis data.
Pada workshop ini mahasiswa dilatih membuat proposal PTK, membuat jurnal kuliah yang direncanakan  selama 16 kali pertemuan dan membuiat analisis kritis artikel. Artikel yang dianalisis berjumlah 6,diantaranya 5 dalam bahasa Indonesia dan satu dalam bahasa inggris. Secara ringkas dapat digambarkan jalannya workshop ini sebagai berikut: Pertemuan pertama diawali dengan pengisian angket yang di bagikan oleh ibu Hera, pertemuan–pertemuan selanjutnya dibahas mengenai bagian–bagian  dari PTK yang diakhiri dengan membuat jurnal, tugas membuat  sub bab PTK yang dibahas  hari itu dan analisis kritis artikel. dan pada minggu–minggu akhir kuliah mahasiswa ditugaskan  membuat portofolio PTK.
Portofolio  adalah kumpulan bukti fisik yang menggambarkan  pengalaman  hasil karya/prestasi  yang  dicapai  selama mengikuti workshop PTK untuk mahasiswa program profesi   guru  dalam  interval  waktu  selama 16 kali pertemuan. 
















JURNAL BELAJAR

Oleh
Ferdinandus Nawa

1.    Pertemuan Pertama (Tanggal 18 Januari 2012)
Pada workshop PTK ini kami di bina oleh ibu Herawati. awal mualinya mata workshop ini kami di bagi angket oleh ibu Herawati untukdi isi yang dilegkapi dengan pengisian biodata. Setelah selasai ibu Herawati memberikan pertanyaan “ apakah kalian di paksa menjadi seorang guru?” banyak yang menjawab dipaksa, tetapi ibu memberikan suatu istilah yaitu 5 sa diantarnya dipaksa, terpaksa, bias, terbiasa, dan luar biasa.
Selanjutnya ibu menyangkan power point yang berkaitan dengan teori-teori PTK. Jujur saya sendiri agak capeh dan lelah, karena mengalami gangguan tidur malam, tetapi ibu Hera memang sangat pintar membaca situasi denagn menunjukan beberapai video dan cerita yang lucu sehingga rasa capeh yang saya rasakan hilang sektika.
Diakhir perkulian ibu memberikan kami tugas untuk mebuat analisis kritis artikel yang berkaitan degan PTK.

2.    Pertemuan Kedua (Tanggal 25 Januari 2012)
Pertmuan kedua kami diminta oleh ibu hera untuk membaca jurnal, jujur pada pertemuan kedua saya belum menyusun jurnal,  tetapi ada teman kami Yohana yang membacakan jurnalnya.
Dilanjutkan degan presentasi analisis artikel oleh dua orang teman kami yaitu Jamilah dan Lisdyawti. Judul artikel yang ditampilkan oleh Jamilah tentang upaya peningkatan hasil belajar biologi melalui pembelajaran kooperatif dengan pendektan sruktural dikelas I7 SLTP Negeri 20- Pekan Baru
Di dalamnya membahas tentang interaksi antara siswa dan guru, dan solusinya menggunakan metode kooperatif  TPS (Think Pair Share) dimana TPS ini menjadikn kondisi kelas lebih efektif, karena siswa diajak berpikir menjawab pertanyaan dan mempresentasikan.
Dilanjutkan dengan presentasi dari Lisdyawati tentang pendekatan joyfull learning dalam pembelajaran lingkungan hidup. Hal yang dapat diambil pendekatan ini yaitu kebermaknaan, penguatan, dan umpan balik.

3.    Pertemuan Ke Tiga
Pada awal pelajran diawai dengan jurnal dari ibu yang ditayang melalui PTT dalam jurnal yng dibuat ibu mengkomentari juga tentang masalah yang di susun oleh kami, karena kami masih menyusun masalh yang masih umum.
Selanjutanya ibu menjelaskan lagi bahwa masalah PTK bukan untuk seorang induvidu siswa tetapi seluruh siswa yang ada dalam kelas.
Dilanjutkan dengan presentasi dari Nurziah tentang penerapan pertanyaaan produktif dalam pembelajran biologi untuk mengikatkan kemampuan ilmiah dan pemahaman konsep siswa di SMA.
Setalah itu ibu mengkomentari analis artikel oleh Nurziah. Dan dilanjutkan dengan presentasi dari Yohana tentang pembelajaran ekosistem di taman sekolah untuk menanamkan relevansi biologi melalui pembentukan kelompok sindikat dan studi kasus SMA I Sumenap  
Hal yang bisa diambil dari analisis ini adalah pembentuk kelompok di pilih sendiri oleh siswanya yang dianggap ammpu berkerja sama.

4.    Pertemuan Ke Empat (Tanggal 08 Februari 2012)
Pada pertemuan ini kami mereview kembali latar belakang masalah yang sudah dikerjakn sebelumnya. Setelah itu dilanjutkan kembali dengan presentasi analisis artikel oleh Marseliana dan Imran dari has ail presentasi kedua teman kami ini belum menunjukan data penunjang dari hasil penggunaan meteode tersebut.
Selanjutnya kami diminta untuk mengkoreksi pekerjaan teman dan meberikan masukan bagi teman tentang penulis latar belakangnya.

5.    Pertemuan Ke Lima (Tanggal 15 Februari 2012)
Pertemuan kali ini ibu Hera tida masuk, kami di bombing oleh mbah Komang. Hari ini saya sendiri yang mempresentasikan hasil analisis artikel “ tentang peningkatan hasil belajar biologi siswa dengan mengunakan pendekatan interaktif pada konsep system pernapasan manusia”
Kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari Fransina tentang pertanyaan produktif, artikel yag dianalisis oleh fransina sama dengan artikel yang di analisis oleh Nurziah.
Setelah itu dilanjutkan dengan penjelasan dari mbah Komang tenatng penulisan kajian pustaka.  Dan diakhir perkulian kami di minta untuk menggumpulkan tugas analisis kritis artikel. Tetapi banyak diantara kami yang belum kumpul termasuk saya sendiri.

6.    Petemuan ke enam (Rabu, 29 Februari 2012)
Pelajaran hari ini diawali cerita plagiat para guru besar oleh prof Hera. Pengalaman prof bahwa penyakit yang dideteksi baik di mahasiswa S1 maupun S2 sama yaitu plagiat.
Kesalahan-kesalahan yang seringkali dilakukan ketika menyusun suatu makalah atau karya imiah dan lain-lain yaitu kesalahan  pengetikan yang tidak sempat diperbaiki sebelum diprint baik itu tanda baca maupun awalan ‘di’ sebagai awalan pasif, selain itu juga pengetikan kata-kata baku (diperhatikan penulisannya pada KBBI), nama orang, tempat,hari, bulan dll yang awalnya harus menggunakan huruf besar.
Prinsip penulisan outline yaitu prinsip persamaan nilai sebagai gagasan dg derajat nilai. Notasi outline: angka romawi huruf besar latin, angka arab, huruf kecil latin, dan seterusnya. contoh penulisan I. A. 1. A.  1)  a)   (1)
Proses penyusunan outline tidak selamanya llangsung jadi. Disusun secara berkesinambungan dalam beberapa waktu.
Selanjutnya diadakan presentasi analisis kritis oleh mahasiswa, dan orang peretama yang mempresentasikan adalah teman florentina renge mengenai metode NHT (Numbered-Head-Together) dengan Judul: Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas 1 SMP Negeri 1 Danau Panggang Melalui Kuis Numbered-Head-Together. Numbered head together adalah pendekatan yang dikembangkan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran. Ada 4 langkah yang diterapkan dalam metode NHT, yaitu: penomoran, mengajukan pertanyaan, berpikir bersama dan menjawab..
Presentasi berikutnya oleh saudara Edmundus Bria Baba dengan judul Penerapan Pengajaran Kontekstual Berbasis Masalah Untuk Meningkatkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X2 SMA Laboratorium Singaraja. dimana siswa dihadapkan pada masalah yang nyata dalam kehidupan yang nantinya akan dipecahkan oleh siswa sendiri.
Selanjutnya tambahan bu Hera mengenai refleksi diri, dan kami diberitahu bahwa banyak kesalahan yang kami buat dalam pembelajaran ini terkait tugas-tugas sehingga perlu diperhatikan gterkait penulisan daftar pustaka dimana perlu ada uraian hasil penelitian terkait bagaimana mpeneliti melakukan pengukuran tindakan maupun aspek penelitian.

7.    Pertemuan Ke Tujuh (Tanggal 7 Maret 2012)
Hari ini di awal perkuliahan, ibu mengingatkan kami tentang kehadiran, karena sudah ada surat edaran tentang kehadiran peserta workshop. Ibu membacakan nama-nama yang tidak masuk termasuk saya sudah 2 kali tidak masuk kuliah. Ibu juga menasihati kami, tentang kedispilnan, yang menurut ibu masih sangat rendah.
Perkuliahan dilanjutkan dengan presentasi analisis kritis yang dilakukan oleh Cornelis dengan judul “upaya peningkatan akivitas dan hasil belajar biologi melalui peta konsep pada siswa kelas II4 smp negeri 2 Pekan Baru.”
Dari presentasi Cornelis ibu juga member masukan yaitu:
Dalam penggunaan peta konsep, sebaiknya disusun oleh siswa, sehingga siswa dapat membangun konsepnya sendiri. Guru hanya meluruskan konsep yang salah. Dengan menerapkan pembelajaran yang seperti ini maka siswa dapat lebih memahami materi yang di bahas.
Presentasi berikutnya di lanjutkan oleh Imran yang sudah presentasi, hal terjadi Setelah selesai presentasi Ibu mengingatkan bahwa dalam penulisan proposal PTK, sebaiknya memakai analisis kritis yang telah di presentasikan. Karena artikel yang sudah dianalisis telah mendapat masukan dari teman2 dan ibu.
Setalah itu ibu juga memberikan tugas. Tugas dari ibu terasa sangat banyak, yaitu mrngumpulkan jurnal belajar, latar belakang dan kajian pustaka yang dilengkapi dengan analisis kritis

8.    Pertemuan Ke  Sepuluh (Rabu, 28 Maret 2012)
Pertemuan kali ini kami kembali lagi bersama bu Hera.
Kami pun melakukan Tanya jawab dikelas terkait hal terkait hal untuk membuat proposal PTK maka kami harus melakukan analisis kritis artikel terkait PTK.
Ibu Hera mengingatkan lagi mengenai manfaat siswa melakukan analisis kritis artikel yaitu untuk mendapat informasi mengenai masalah PTK, cara memecahkan masalah PTK, menerapkan tindakan untuk memecahkan masalah, menyusun kerangka kajian pustaka.
Selanjutnya ibu memberhtahunkan untuk menggumpulkan analisi artikel, tetapi anak-anak belum pada kumpul semua akhirnya terjadi tawar menwar dengan ibu tuk buat jurnal yang hasil akhirnya 5 bahasa Indonesia dan 1 bahasa inggris.
Kemudian ibu meminta untuk menggumpulkan jurnal, tetapi sebelumnya ibu bertanya siapa yang mengalmi kesulitan membut jurnal orang pertama yang merasa kesulitan adalah saya dengan teman saya Sayful. Kelemahan kami tidak bisa menuliskan apa yang kami pikir untuk dituangkan kedalam buku. Kemmudian ibu memberikan tips untuk bisa mencoba menulis jurnal yaitu “Extending KWL Questions for Guided Inquiry inilah resep untuk menulis jurnal harian yang diberikan oleh bu Hera untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh mahasiswa”
What do I know?(K). apa yang saya ketahui tentang TPS misalnya?
What do I want to know?(W) apa yang ingin saya ketahui? TPS itu cocokx untuk belajarkan materi yang mana? Apakah bisa menggunakan 3 orang?
How do I find out?(F) Bagaimana saya cari tahu? Apa yang hendak saya ketahui
What did I learn? (L) apa yang saya pelajari?
How do I used what I learned? (U) bagaimana saya menggunakan apa yang saya ketahui?
What will I do next time?(N) apa yang akan saya lakukan lain kali?
KWHLUN
Fungsi journal belajar yaitu:
*      Mengubah malas mikir (mami) menjadi mau mikir (mami)
*      mengingatkan kita tentang materi yang kita pelajari hari itu
*      Mengetahui kemampuan diri dalam mempelajari materi
*      Sebagai sarana refleksi diri, sarana untuk berpikir mengenai apa yang kita piker atau apa yang kita pelajari (sarana berlatih untuk mengukur pemahaman kognitif)
*      Sarana untuk melatih MENULIS karena untuk menuangkan apa yang kita pikirkan kedalam bentuk tulisan itu sulit sehingga peerlu dilatih dan latihannya melalui penulisan jurnal
*      Mengetahui seberapa jauh yang ingin kita ketahui, yang sudah kita ketahui sebagai tolok ukur tindakan yang sudah dilakukan selama ini, untuk mengetahui tugas mana yang sudah dikerjakan dan tugas mana yang belum dikerjakan, dan juga sebagai sarana untuk melatih disiplin diri kita supaya dapat memperbaikinya lagi.

9.    Pertemua Ke 12 (Rabu, 04 April 2012)
Diawali dengan presentasi analisis  oleh Wihelmina Yustina Gae dengan judul:
Penerapan Strategi Pembelajaran TGT
Pertanyaan:
v  Maria Anggelina: Game seperti apa? Gamenya berbeda-beda untuk tiap kelompok?
v  Ermelinda: apakah pembelajaran TGT sama dengan game and stimulation?  Berbeda. Game stimulation kita meniru keadaan yang sebenarnya, TGT itu selayaknya kita bermain akademik, artinya permainan disesuaikan dengen materi yang sedang di pelajari.
v  Permainan akademiknya seperti apa?
v  Yohana: presentasi kelas yang dimaksudkan itu seperti apa? Presentasi kelas disini dilakukan oleh guru ketika berceramah di awal kegiatan pembelajaran.
v  Florentina: ceramahdari guru sama dengan presentasi kelas? Berdasarkan sumber yang dibaca seperti ini karena awal dari model ini adalah ceramah dari guru.ceramah ini yang dianggap sebagai presentasi kelas
v  Apolonia: planning: membuat jadwal penelitian, butir soal kognitif, LKS, acting:, observing: dan refleksi:

Tambahan dari Ibu Hera:
Menurut pendapat dari ibu Hera ini tidak gampang karena murid bandel-bandel sehingga kita harus memperhatikan pengelolaan kelas, ada aturan permainan, masukan dari teman2 sangat bagus2.

Selanjutnya presentasi kedua oleh Leonora londar. Judulp yang dipresentasikan adalah PBM
v  Bagaimana prosesnya: siswa dihadapkan pada masalah (guru memberi topik), masalahnya belum jelas, melalui diskusi siswa menemukan konsep penyelesaian masalah melaui metode yang cocok, kemudian PBM: Dimulai dari masalah, inkuiri dimulai dari apa yang ingin diketahui. Dan mencari tahu apa yang ingin saya ketahui, setelah itu mencari tahu lebih dalam dari materi yang sudah diketahui jadi otak terus menerus bekerja.

Presentasi ketiga oleh Maria Anggelina Genere Koban dengan judul “penerapan pendekatan structural Think-Pair Share untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa  kelas1.7 SLTPN 20 Pekanbaru pada pokok bahasan keanekaragaman hewan TA 2002/2003.”
Kekurangan dan kelebihan:
v  Pertemuan ketiga baru siswa bias berahasil diaktifkan. Keunggulan TPS: siswa akan terpaksa bekerja, memikirkan, karena hanya 2 orang.
v  Perlu ada data pendukung tentang masalah-masalah misalnya nilai dan lain sebagainya. Guru harus tanggap dengan keadaan siswa


REFLEKSI TENTANG JURNAL
Oleh
Ferdinandus Nawa

Sebelum saya mengulas lebih banyak tentang penulisan jurnal ini, hal yang sangat membuat susah adalah menuliskan jurnal, KENAPA? Karena untuk menulis jurnal saya harus memcobanya terus-terus dan sangat susah untuk saya menuangkan apa yang ada dalam pikiran saya kedalam sebuah tulisan ini. Sebelumnya saya minta maaaf karena jurnal yang saya tulis hanya sebagian saja karena ada beberap pertemuan tidak saya tulis.
Saya merasa jurnal kuliah  sangat bermanfaat karena  dalam jurnal  yang dibuat memuat beberapa hal antara lain sebagai laporan singkat  tentang pelaksanaan pembelajaran sekaligus sebagai  ringkasan materi kuliah dan juga sebagai sarana refleksi diri.
Penulisan jurnal kuliah  sedikit demi sedikit melatih  saya untuk menulis apa yang saya lakukan, apa yang saya lihat dan apa yang saya dengar selama perkuliahan berlangsung dan ini merupakan pembelajaran berharga bagi saya karena sebenarnya seorang guru dituntut untuk membuat jurnal belajar/mengajar yang selama ini tidak saya lakukan karena  keterbatasan saya dalam memahami cara penulisan jurnal belajar. Penulisan jurnal kuliah ini merupakan langkah awal untuk melatih saya dalam menulis hal–hal yang lebih besar lagi seperti penulisan karya ilmiah khususnya PTK yang akan saya tempu nantinya.
Saya sangat berterimah kasi kepada ibu Hera yang sudah banyak memberikan informasi dan solusi kepada saya tentang cara penulisan jurnal dengan mudah dan tidak merasa berat untuk mengeluarkan apa yang ada di otak saya. Sekali lagi saya ucapkan Terimah Kasih Banyak kepada Ibu Herawati.






ANALISIS KRITIS ARTIKEL  I

PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN INTERAKTIF PADA KONSEP SISTEM PERNAPASAN PADA MANUSIA


Bilbiografi
Apriyani,Dwi.2008. Peningkatan Hasil Belajar Biologi Siswa Dengan Menggunakan Pendekatan Interaktif Pada Konsep Sistem Pernapasan Pada Manusia. skripsi tidak diterbikan.www/// masalah_pendidikan_biologi/ com//0072//doc//., htlm. (diakses tgl 12 januari 2012)

Tujuan Penulisan
Untuk menginformasikan kepada pembaca dan untuk mengetahui implementasi mengenai Peningkatan Hasil Belajar Biologi Siswa dengan Menggunakan Pendekatan Interaktif pada Konsep Sistem Pernapasan pada Manusia

Fakta-Fakta Unik
  Biologi merupakan wahana untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, keterampilan sikap serta bertanggung jawab kepada lingkungan.
  Biologi berkaitan dengan cara mencari tahu dan memahami alam dan makhluk hidup secara sistematis sehingga pembelajaran biologi bukan hanya penguasaan kumpulan-kumpulan fakta tetapi juga proses penemuan.
  Masalah-masalah pembelajaran sains atau biologi diantaranya adalah: pengajaran sains hanya mencurahkan pengetahuan (tidak berdasarkan praktek)
  Dalam hal ini, fakta, konsep dan prinsip sains lebih banyak dicurahkan melalui ceramah, tanya jawab, atau diskusi tanpa didasarkan pada hasil kerja praktek.
  Menurut pandangan konstruktivisme belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. Bagi kaum konstruktivisme mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke murid, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya
  Salah satu pendekatan pembelajaran yang menitik beratkan kepada siswa dan siswa aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar adalah pendekatan interaktif. Pendekatan interaktif dikenal sebagai pertanyaan anak, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan kemudian dilanjutkan dengan penyelidikan yang berkaitan dengan pertanyaan yang mereka ajukan
  Salah satu kebaikan dari pendekatan interaktif adalah bahwa peserta didik belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan observasi atau pengamatan.
  Model pembelajaran interaktif adalah suatu pendekatan yang merujuk pada pandangan konstruktivis yang menitik beratkan pada pertanyaan siswa sebagai ciri sentralnya dengan cara mengali pertanyn-pertanyaan siswa

Pembahasan
Berdasarkan hasil penerapan pembelajaran dengan metode pendekatan interaktif  terlihat  meningkatnya hasil belajar siswa pada aspek kognitif atau penguasaan konsep. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata postes hasil belajar siswa
Selain meningkatkan hasil belajar pada penguasaan konsep, pendekatan interaktif juga meningkatkan hasil belajar pada aspek psikomotoris atau keterampilan proses sains
Hal ini dikarenakan pada pendekatan interaktif banyak terjaring keterampilan proses sains dalam kegiatan belajar mengajar, diantaranya pada aspek mengajukan pertanyaan, menggunakan alat dan bahan dan menginterpretasi data.
Mengajukan petanyaan dapat mengarahkan siswa untuk mendalami masalah atau tahap pemahaman yang dimilik oleh siswa.
Pentingnya peranan pertanyaan dalam proses pembelajaran sains salah satunya diungkapkan oleh Costa dalam Suartini yang menyatakan bahwa,. Questions are the intellectual tools by which teachers most often elicit the desired behavior of their students. Thus, they can use questions to elicit certain cognitive objectives of thinking skill.
Jadi, menurut Costa pertanyaan merupakan alat intelektual yang sering digunakan oleh guru untuk menimbulkan perilaku keingintahuan siswa
Menurut Handselsman et. al., dalam Anggraeni mengajak siswa dalam investigasi ilmiah akan membuat mereka menjadi termotivasi dalam belajar, menurunkan beberapa keterampilan analisis, kemampuan menemukan informasi, meningkatkan semangat ingin tahu, dan kemampuan bertanya.
Pembelajaran yang melibatkan siswa aktif dalam pembelajaran pengetahuan yang mereka dapat bertahan lama dalam ingatan mereka, mempunyai efek transfer yang lebih baik dan dapat meningkatkan daya nalar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pertanyaan-Pertanyaan Yang Dapat Dimunculkan
q  Apakah penggunaan pendekatan interaktif dalam pembelajaran dapat memberikan pemahaman kepada siswa?
q  Apakah pendekatan interaktif dapat meningkatkan hasil belajar siswa?

Konsep Utama
Terdapat beberapa hal yang  menjadi konsep utama dalam tulisan ini yaitu:
q  Konsep tentang pendekatan pembelajaran  interaktif.
q  Hasil belajar yang diukur adalah aspek kognitif, afekif  dan aspek psikomotorik dalam pembelajaran interaktif.

Refleksi
Dengan membaca dan memahami isi dari tulisan ini, saya memperoleh pengetahuan tambahan tentang konsep pendekatan pembelajaran interaktif.
Dimana dalam konteks pembelajaran interaktif lebih menekan pada pembelajaran berbasis inkuri yang menitik beratkan pada siswa dengan mengajukan pertanyaan dan diminta siswa sendiri yang menjawab, dan juga diharapkan siswa dapat memecahkan masalah.
Dengan demikian apa yang saya peroleh dari tulisan ini akan menjadi bekal untuk saya pada saat terjun kedunia nyata di sekolah nantinya.


Lanjutan Refleksi
Kajian Pustaka yang akan ditulis dijabarkan menjadi beberapa hal, diantaranya menyangkut:
1.   Hakikat Belajar
2.   Hakikat Hasil Belajar
3.   Konstruktivisme
4.   KeterampilanProsesSains


REFLEKSI ANALISIS ARTIKEL I


Dalam analisis artikel ini sangat bermamfat untuk saya dalam menyusun proposal penelitian. Karena dengan mengalisi kritis artikel ini saya banyakmendapat informasi mengenai pendekatan interaktif dengan langkah-langkah dalam pendekatan interaktif, sehingga saya tinggal mengkombinasikan dengan metode kooperatif yang cocok dengan pendekatan ini.
Penelitian ini  hampir sama dengan judul proposal PTK saya yaitu “Peningkatan Proses dan Hasil Belajar Biologi Menggunakan Pendekatan Interativ  melalui Model Pembelajaran Think-Pair-Share pada Peserta Didik Kelas X SMA sehingga kajian pustaka, hipotesis penelitian besarta instrumen – instrumennya bisa saya jadikan acuan dalam menyusun instrumen–instrumen penelitian saya, begitu pula  tehnik analisa data dan pengujian hipotesisnya


ANALISIS KRITIS ARTIKEL  II

PENGARUH PENERAPAN MODEL PBL DIPANDU STRATEGI KOOPERATIF TERHADAP KECAKAPAN  BERPIKIR KRITIS SISWA SMA PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI


BIBLIOGRAFI
q  Putu Arnyana, Ida Bagus . 2008. Pengaruh penerapan model PBL dipandu startegi kooperatif terhadap kecakapan berpikir kritis siswa SMA pada pelajaran mata pelajaran biologi”. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan . www/// msalah  pendidikan _biologi/ com//0072//doc//., htlm.
TUJUAN PENULISNYA
q  Untuk menginformasikan kepada pembaca tentang ‘” Pengaruh penerapan model PBL dipandu startegi kooperatif terhadap kecakapan berpikir kritis siswa SMA pada  mata pelajaran biologi”
FAKTA-FAKTA UNIK
q  Pengajaran biologi di SMA juga dimaksudkan untuk pembentukan sikap yang positif terhadap biologi, yaitu merasa tertarik untuk mempelajari biologi lebih lanjut karena merasakan keindahan dalam keteraturan prilaku alam serta kemampuan ilmu biologi dalam menjelaskan berbagai peristiwa alam dan penerapan biologi dalam teknologi (Puskur Balitbang Depdiknas, 2002)..
q  Kemampuan berpikir yang diperlukan setiap orang adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi. Johnson (2002); Krulik and Rudnick (1996) menyebutkan bahwa berpikir tingkat tinggi terdiri dari berpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kritis adalah aktivitas mental dalam hal memecahkan masalah, mengambil keputusan, menganalisis asumsi, mengevaluasi, memberi rasional, dan melakukan penyelidikan. Sedangkan berpikir kreatif adalah aktivitas mental yang menghasilkan ide-ide yang orisinil, berdaya cipta, dan mampu menerapkan ide-ide
q  Ennis (1985; 1993) dan Marzano, et al. (1988) mengemukakan bahwa berpikir kritis mencakup kemampuan: (1) merumuskan masalah, (2) memberikan argumen, (3) mengemukakan pertanyaan dan memberikan jawaban, (4) menentukan sumber informasi, (5) melakukan deduksi, (6) melakukan induksi, (7) melakukan evaluasi, (8) memberikan definisi, (9) mengambil keputusan serta melaksanakan, dan (10) berkomunikas
q  Untuk mengajarkan kecakapan berpikir kritis di SMA khususnya dalam mata pelajaran biologi sangat perlu di cari model maupun strategi pembelajaran yang sesuai untuk itu. Model Belajar Berdasarkan Masalah (Problem Based Learning/PBL) dan Strategi Kooperatif (Cooperative Learning) tampaknya dapat diterapkan dalam pembelajaran biologi untuk mencapai tujuan belajar biologi dan melatih kecakapan berpikir kritis siswa.
q  Model Problem Based Learning (PBL) merupakan pembelajaran yang dirancang berdasarkan masalah riil kehidupan yang bersifat tidak terstuktur (ill-structured), terbuka, dan mendua. Melalui model PBL siswa dirangsang untuk melakukan penyelidikan atau inkuiri dalam menemukan solusi-solusi terhadap masalah yang dihadapinya (Ibrahim dan Nur, 2000).
q  Model PBL memiliki ciri siswa bekerja sama antara satu dengan lainnya dalam bentuk berpasangan atau berkelompok untuk bersama-sama memecahkan masalah yang dihadapi. Dalam belajar berkelompok, siswa akan termotivasi secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan berpeluang untuk berdialog dalam mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir. Model PBL sangat baik  dipasangkan dengan startegi kooperatif. Hal ini mendukung  Hereid (2000); Gilbert and Driscooll (2002); Rindell (1999) mengemukakan bahwa PBL sangat penting dipasangkan dengan strategi pembelajaran kooperatif karena dapat memacu kecepatan peningkatan kemampuan berpikir siswa.
q  Dumas (2003) mengemukakan pembelajaran kooperatif memberikan jalan bagi semua anggota kelompok untuk meningkatkan kecakapan berpikir tingkat tinggi, seperti kecakapan analistis, sintesis, elaborasi, memecahkan masalah, berpikir alternatif, dan kecakapan berbahas

PEMBAHASAN
q  Data hasil penelitian berupa skor kemampuan berpikir kritis diperoleh melalui prates dan pascates. Skor yang diperoleh siswa pada setiap tes  antara 0-80 atau dengan prosentase 0%-100%
q  Hasil anaisis statistik sejalan dengan analisis secara deskriptif, bahwa (1) model PBL memberikan pengaruh lebih baik dalam meningkatkan kecakapan berpikir kritis siswa dibandingkan dengan model DI, (2) strategi kooperatif GI memberikan pengaruh lebih baik dalam meningkatkan kecakapan berpikir kritis siswa dibandingkan dengan strategi kooperatif STAD, dan (3) interaksi model belajar dengan strategi kooperatif memberikan pengaruh berturut-turut: PBL-GI, PBL-STAD, DI-GI dan DI-STAD
q  Model PBL secara signifikan memberikan pengaruh  lebih baik dibandingkan Model DI dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Hal ini dapat dijelaskan, pelaksanaan model PBL dapat melatih komponen-komponen berpikir kritis. Model PBL memiliki sintaks, yaitu (1) siswa dihadapkan pada masalah aktual dan autentik yang memiliki sifat tidak terstruktur, terbuka, dan mendua, (2) siswa terorganisasi dalam kelompok belajar, (3) siswa melakukan investigasi untuk memecahkan masalah dan mengajukan solusi, dan 4) siswa mengembangkan dan menyajikan hasil kegiatan serta mendiskusikannya di dalam kelas. Di samping itu, model PBL memiliki ciri siswa bekerja sama dalam kelompok kecil sehingga dapat memotivasi siswa untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan berpeluang agar siswa melakukan inkuiri dan berdialog untuk mengembangkan keterampilan berpikir.
q  Sedangkan model DI memiliki sintaks, yaitu: guru menyajikan tujuan pambelajaran, guru mendemonstrasikan pengetahuan, membimbing latihan, dan mengecek pemahaman siswa, dan memberikan umpan balik.
q  Komponen kemampuan berpikir kritis yang harus dilatihkan pada siswa adalah mencakup kemampuan (1) merumuskan masalah, (2) memberikan argumen, (3) melakukan deduksi, (4) melakukan induksi, (5) melakukan evaluasi, dan (6) memu-tuskan dan melaksanakan (Ennis, 1985; 1993; Marzano, 1988
q  Strategi kooperatif GI secara signifikan memberikan pengaruh lebih baik terhadap kemampuan berpikir dibandingkan dengan strategi kooperatif STAD. Sintaks pembelajaran strategi kooperatif GI meliputi tahapan-tahapan sebagai berikut. (1) Siswa membentuk kelompok dari siswa yang memiliki minat yang sama namun heterogen. (2) Kelompok mengidentifikasi topik masalah untuk dilakukan investigasinya. (3) Merencanakan kegiatan kelompok untuk bersama-sama melakukan investigasi sesuai dengan masalah yang diangkat. (4) Kelompok melakukan investigasi untuk mengumpulkan data/informasi, melakukan analisis data, membahas serta mensintesis ide-ide untuk memecahkan masalah dan mengusulkan pemecahan. (5) Menyusun laporan hasil investigasi dan presentasi laporan.
q  Inti dari strategi kooperatif GI adalah siswa menemukan masalah, merencanakan investigasi, melakukan investigasi, analisis data dan menjelaskan hasil investigasi, dan mengambil keputusan. Sedangkan  tahapan-tahapan pembelajaran strategi kooperatif STAD adalah sebagai berikut. (1) Guru mempresentasi materi pelajaran. (2) Kerja kelompok dalam melakukan penyelidikan, diskusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi, (3) Tes. (4) Pemberian penghargaan.
q   Dalam strategi kooperatif STAD bagian yang tampak sangat berbeda dengan strategi kooperatif GI adalah adanya komponen guru menceramahkan materi pelajaran sehingga siswa di sini merasa disuapi dengan informasi
q  Di samping itu, adanya pemberian hadiah/penghargaan lebih sering hanya membangkitkan motivasi eksternal dibandingkan motivasi internal siswa. Dengan memperhatikan kegiatan pembelajaran pada strategi kooperatif GI, terutama siswa dilatih untuk melakukan investigasi, jelas tampak bahwa strategi kooperatif GI dapat melatih kemampuan berpikir kritis siswa
q  Kombinasi antara model belajar dengan strategi kooperatif merupakan sesuatu yang sangat penting. Model PBL dirancang agar siswa dalam kegiatan belajar berkolaborasi bersama teman sebayanya. Pada penelitian ini dikombinasikan (1) model PBL dengan strategi kooperatif GI dan strategi kooperatif STAD, dan (2)  model DI dengan strategi kooperatif GI dan strategi kooperatif STAD.
q  Kombinasi antara model PBL dengan strategi kooperatif merupakan sesuatu yang sangat menarik, karena siswa saat memecahkan masalah yang diangkat dalam proses belajar dapat mengerjakannya secara berkelompok untuk mencapai tujuan belajar bersama. Hal ini mendukung pendapat  Feletti and Bound (1997) yang mengemukakan bahwa dalam menerapkan model PBL hendaknya siswa bekerja sama antara satu dengan lainnya dalam bentuk berpasangan atau dalam kelompok kooperatif untuk bersama-sama memecahkan masalah yang dihadapi.
q  Simpulan dapat disampaikan bahwa, penelitian ini menemukan: (1) model PBL dapat meningkatkan kecakapan berpikir kritis siswa, (2) strategi kooperatif GI dapat meningkatkan kecakapan berpikir kritis siswa, dan (3) model PBL dan strategi kooperatif GI secara bersama-sama dapat meningkatkan kecakapan berpikir kritis siswa SMA dalampelajaran biologi
q  Temuan penelitian ini memiliki implikasi sebagai berikut. Pertama, kemampuan berpikir tingkat tinggi berupakan kemampuan yang sangat penting dilatihkan pada siswa, karena kemampuan berpikir ini sangat diperlukan untuk sukses dalam kehidupannya nanti baik di bidang akademis maupun dalam kehidupannya di masyarakat.
q   Kedua, kemampuan berpikir kritis dapat ditingkatkan melalui proses pembelajaran dengan menggunakan  model PBL atau strategi kooperatif GI secara terpisah, atau kombinasi antara model PBL dengan strategi kooperatif GI atau strategi kooperatif STAD

PERTANYAAN YANG MUNCUL
q  Bagaimanakah Pengaruh penerapan model PBL dipandu startegi kooperatif terhadap kecakapan berpikir kritis siswa SMA pada pelajaran mata pelajaran biolog?
q  Apakah dengan Pengaruh penerapan model PBL dipandu startegi kooperatif terhadap kecakapan berpikir kritis siswa SMA pada mata pelajaran biolog dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa?

KONSEP UTAMA
Terdapat beberapa hal yang  menjadi konsep utama dalam tulisan ini yaitu:
q  Konsep tentang hakikat pemecahan masalah.
q  Konsep tentang penerapan model PBL
q  Konsep tentang cooperative GI
q  Konsep tentang cooperative STAD
q  Konsep penerapan model PBL dipandu startegi kooperatif terhadap kecakapan berpikir kritis siswa SMA pada pelajaran mata pelajaran biologi


REFLEKSI ANALISIS ARTIKEL II

      Dengan membaca dan memahami isi dari tulisan ini, saya memperoleh pengetahuan tambahan tentang penerapan model PBL dipandu startegi kooperatif terhadap kecakapan berpikir kritis siswa SMA pada mata pelajaran biologi
      Dimana dalam kaitan ini Model PBL dan strategi kooperatif GI (1) sama-sama mendorong siswa untuk melakukan investigasi guna memecahkan masalah yang ditentukan sendiri oleh kelompok siswa, (2) model PBL menyediakan masalah, sedangkan strategi kooperatif GI dan STAD menyediakan kelompok yang memiliki tanggung jawab untuk mencapai tujuan bersama. Dengan kombinasi ini mengakibatkan terlatihnya komponen-komponen kemampuan berpikir kritis siswa, seperti kemampuan merumuskan masalah, memberikan argumen, melakukan deduksi, melakukan induksi, melakukan evaluasi, dan memutuskan dan melaksanakan.
      Oleh karena itu tulisan ini sebagai acuan untuk melaksanan PTK trutama untuk menyusun latar belakang masalah, dan mencari kajian pustaka tambahan.


ANALISIS KRITIS ARTIKEL  III

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN PENDEKATAN STRUKTUR
DI KELAS 17 SLTP NEGERI 20 PEKANBARU
Analisi Kritis Artikel Ke Tiga



BILBIOGRAFI
Yusuf , Yustini dan Natalina , Mariani . 2005. UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI  MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF  DENGA PENDEKATAN STRUKTUR  DI KELAS 17 SLTP NEGERI 20 PEKANBARU ”. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan . www/// msalah  pendidikan _biologi/ com//0072//doc//., htlm.


TUJUAN
Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas I7 SLTP Negeri 20 Pekanbaru melalui Pembelajaran Kooperatif dengan pendekatan struktural”


FAKTA-FAKTA UNIK
*      Biologi merupakan salah satu bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang sangat besar pengaruhnya untuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
*      Dalam pembelajaran IPA, khususnya Biologi, sangat diperlukan strategi pembelajaran yang tepat yang dapat melibatkan siswa seoptimal mungkin baik secara intelektual maupun emosional. Karena pengajaran Biologi menekankan pada keterampilan proses.
*      Keberhasilan proses dan hasil pembelajaran di kelas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah guru dan siswa
*      Guru Biologi di SLTP Negeri 20 kelas I7  selalu merasa tidak puas dalam melaksanakan proses pembelajaran. Hambatan yang ditemui antara lain adalah kelas selalu pasiaf, motivasi siswa untuk belajar sangat rendah dan sangat sulit untuk menimbulkan interaksi baik antara siswa dengan siswa maupun antara siswa dengan guru, sehingga kelas selalu didominasi oleh guru.
*      Model Pembelajaran Kooperatif adalah salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktifitas siswa, meningkatkan interaksi, meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran dan akan meningkatkan motivasi siswa untuk aktif dalam proses pembelajar
*      Salah satu pendekatan dari model pembelajaraan Kooperatif adalah Pendekatan Struktural, pada pendekatan ini memberikan pemecahan pada penggunaan struktur yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa
*      Pendekatan struktural dikembangkan oleh  Spencer Kagen (Kagen, 1993) yang terdiri dari dua  macam struktur yang terkenal yaitu Think–Pair  Share (TPS) dan Numbered–Head Together  (NHT). Penelitian tindakan kelas ini menggunakan TPS.
*      Menurut Ibrahim (2000) TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu yang lebih banyak untuk berpikir, menjawab dan saling memberikan satu sama lain. TPS adalah sebagai ganti Tanya-jawab seluruh kelas.


PEMBAHASAN
v  Menghitung Skor Individu
Perhitungan skor individu ditujukan untuk menentukan nilai perkembangan individu yang disumbangkan sebagai skor kelompok. Nilai perkembangan individu dihitung berdasarkan selisih perolehan skor test  terdahulu dengan skor test terakhir penilaiannya
v  Penghargaan Prestasi Kelompok
Skor kelompok dihitung berdasarkan rata-rata perkembangan yang disumbangkan anggota kelompok yang terdiri dari tiga tingkatan penghargaan misalkan x menyatakan rata-rata skor kelompok yaitu kelompok hebat bila 11,75 < x < 23,25, kelompok super bila 23,25 < x < 30 (Slavin dalam Husin, 2001). Aktifitas siswa dan aktifitas guru dicatat dengan menggunakan lembaran observasi sebagai data penunjang
v  Hasil Belajar Siswa
Pada bagian ini akan disajikan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural sebanyak 2 kali ulangan harian pada pokok bahasan Ciri-ciri Makhluk Hidup dan Organisasi Kehidupan
Dapat dilihat bahwa hasil belajar ulangan harian I kurang baik yang mencapai nilai tinggi sekali hanya 4 orang sama dengan sebelum dilakukan model pembelajaran Kooperatif untuk nilai tinggi dan sedang  peningkatannya kecil sekali.
*      Untuk ulangan harian II terjadi peningkatan hasil belajar yang mendapat nilai  tinggi sekali 15 orang, nilai tinggi 10 orang dan sedang sebanyak 7 orang. Kecilnya peningkatan hasil belajar pada UH I antara lain disebabkan pada proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural belum berjalan dengan baik, guru masih sulit untuk mengaktifkan siswa dalam kelompok, membaca, mengerjakan LKS dan presentasi di depan kelas.
*      Pada siklus ini dapat dikatakan sebagian siswa masih bekerja secara individual walaupun sudah berada dalam kelompoknya.
*      Pada UH II terlihat peningkatan hasil belajar, ini disebabkan anak dalam proses pembelajaran sudah terbiasa dengan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural

v  Ketuntasan Belajar Siswa
*      Ketuntasan belajar siswa secara individu dan klasikal selama dilaksanakannya model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural dapat dilihat antara sebelum dan sesudah dilaksanakannya pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktura Pada UH I siswa yang tuntas belajar sebanyak 54,76% dan yang belum tuntas 45,24%.
*      Ketidaktuntasan ini diduga siswa belum terbiasa dengan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural. Berdasarkan hasil observasi aktifitas siswa selama proses pembelajaran siklus pertama ini pelaksanaannya belum sesuai dengan pendekatan struktural ti pe TPS
*      Pada UH II siswa  yang tuntas sebanyak 76,19% dan belum tuntas 23,81%. Hal ini menunjukkan terjadi peningkatan ketuntasan belajar individu antara UH I dan UH II.
*      Pada siklus kedua ini proses pembelajaran sudah hampir sesuai dengan tuntutan TPS, hanya ada beberapa kelompok yang masih sukar untuk berinteraksi dengan siswa dalam kelompoknya maupun dengan guru.

v  Perkembangan dan Penghargaan
*      Dari hasil belajar yang didapatkan oleh masing-masing individu, skor perkembangan yang diperoleh akan disumbangkan pada kelompoknya masing-masing. Skor tersebut akan dapat menentukan perkembangan kelompok dan penghargaan yang diperoleh masing-masing kelompok
*      Penerapan pembelajaran Kooperatif tipe struktural dengan pendekatan TPS pada siklus I terdiri dari 21 pasang (kelompok TPS) 3 pasang mendapat penghargaan baik, 10 pasang mendapat penghargaan hebat dan 7 pasang mendapat penghargaan super .
*      Pada siklus II yang terdiri dari 21 pasang, 2 pasang mendapat penghargaan baik, 7 pasang mendapat penghargaan hebat dan 12 pasang mendapat penghargaan super.
*      Hal ini menunjukkan bahwa bahwa prestasi belajar siswa semakin meningkat sesuai dengan pendapat Watson dalam Rosyel (1998) yang menyatakan bahwa kelas yang diajar dengan pembelajaran kooperatif bersifat memiliki prestasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang diajar melalui pembelajaran tradisional.

v  Aktifitas Siswa
*      Dari hasil observasi terlihat bahwa aktifitas siswa selama proses pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural antara siklus I dan siklus II terjadi peningkatan
*      Pada siklus I pertemuan 1 dan 2 siswa masih asing dengan pendekatan struktural TPS, siswa pada saat mengerjakan LKS masih secara individu, tidak mau berdiskusi dengan teman dan tidak ada yang bertanya pada guru dan tidak ada yang menanggapi hasil presentasi
*      Pada siklus ini nampaknya banyak kelompok yang tidak mau bekerja sama yang mungkin disebabkan dasar pembagian kelompok adalah pasangan berdasarkan jenis kelamin yang berbeda (pria dan wanita), jadi banyak diantara siswa yang malu-malu bekerja sama dengan pasangannya
*      Berdasarkan hasil Refleksi maka pada siklus II terjadi perubahan kelompok. Dasar penyusunannya adalah nilai akademik, yaitu siswa yang bernilai tinggi dipasangkan dengan siswa yang bernilai rendah
*      Pada siklus II tampak siswa sudah terbiasa dengan pembelajaran Kooperatif dengan pendekatan Struktural, maka aktifitas kelompok sudah makin baik hanya ada beberapa kelompok yang masih tidak mau bekerja sama, masih bekerja secara individual.

v  Aktifitas Guru
*      Karena guru yang mengajar adalah guru yang sudah senior, secara umum aktifitas guru selama proses pembelajaran kooperatif sesuai dengan tuntutan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan Struktural
*      Disini guru masih kekurangan waktu karena pada pendekatan Struktural tipe TPS diharapkan ¼ dari jumlah pasangan dapat mempresentasikan hasil tugas kelompoknya.
*      Pada siklus II guru sudah makin baik mengatur waktu seiring dengan siswa yang sudah baik melaksanakan pendekatan Struktural tipe TPS sehinggga pada setiap pertemuan yang mendapat giliran untuk presentasi di depan kelas antara 4–5 kelompok.
*      Kesulitan yang dihadapi guru hanya mengatur kelompok dan mengarahkan siswa agar selalu bekerja dalam kelompok.



PERTANYAAN-PERTANYAAN YANG DAPAT DIMUNCULKAN
q  Bagaimanakah upaya peningkatan hasil belajar biologi  melalui pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktur  di kelas 17 SLTP Negeri 20 Pekan Baru ?
q  Apakah  dengan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa di kelas 1 7 SLTP negeri 20 Pekan Baru?

KONSEP UTAMA
Terdapat beberapa hal yang  menjadi konsep utama dalam tulisan ini yaitu:
q  Konsep tentang hakikat pemecahan masalah dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
q  Konsep tentang pendekatan Struktural
q  Konsep tentang cooperative TPS
q  Konsep penerapan pendekatan dipandu startegi kooperatif TPS terhadap peningkatan hasil belajar siswa SLTP pada pelajaran mata pelajaran biologi

REFLEKSI
Ø  Dengan membaca dan memahami isi dari tulisan ini, saya memperoleh pengetahuan tambahan tentang upaya peningkatan hasil belajar biologi  melalui pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktur .
Ø  Dimana dalam strategi kooperatif dengan pendekatan struktural (1) sama-sama mendorong siswa untuk melakukan kerja kelompok guna meningkatkan hasi belajar siswa, (2) metode pembelajran kooperatif TSP meningkatkan kerja sama antar siswa yang bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya. Dengan kombinasi ini dapat mengakibatkan terlatihnya kemampuan siswa dalam meningkatkan hasil belajar siswa dan interaksi antar siswa dengan Guru serta siswa dengan siswa.
Ø  Oleh karena itu tulisan ini sebagai acuan untuk melaksanan PTK


REFLEKSI ANALISIS ARTIKEL III


Pada artikel dijelaskan secara rinci tentang hipotesis penelitian, bagaimana cara menguji  hipotesis dan bagaimana  hasil pengujian hipotesis, den kajian pustaka untuk menambah perluasan bahasan nantinya.  saya dapat mengambil manfaat dari  artikel ini karena judul penelitian tindakan kelas ini  hampir sama dengan judul penelitian yang saya buat. Dimana dalam strategi kooperatif dengan pendekatan struktural (1) sama-sama mendorong siswa untuk melakukan kerja kelompok guna meningkatkan hasi belajar siswa, (2) metode pembelajran kooperatif TSP meningkatkan kerja sama antar siswa yang bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya. Dengan kombinasi ini dapat mengakibatkan terlatihnya kemampuan siswa dalam meningkatkan hasil belajar siswa dan interaksi antar siswa dengan Guru serta siswa dengan siswa.


REFLEKSI ANALISIS ARTIKEL IV

PENERAPAN PENDEKATAN STRUKTURAL THINK–PAIR–SHARE (TPS ) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS
SISWA KELAS  I.7  SLTPN 20 PEKANBARU PADA POKOK BAHASAN KEANEKARAGAMAN HEWAN TA. 2002/2003

Analisis Kritis Artikel ke Empat



BILBIOGRAFI
S, Rosmaini, Suryawati, Evi dan  N. L, Mariani. 2004. Penerapan pendekatan struktural think–pair–share (TPS) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Aktivitas Siswa kelas  17  sltpn 20 pekanbaru Pada pokok bahasan keanekaragaman hewan. Jurnal Biogenesis Vol. 1(1):9-14, 2004. Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau. ISSN : 1829-5460


TUJUAN PENULISAN
1.    Tujuan dari penulisan ini untuk menginformasikan kepada pembaca tentang penigkatan hasil belajar belajar dan aktivitas siswa kelas I.7 SLTPN 20 Pekanbaru
2.    Tujuan penelitian ini adalah agar dapat meningkatkan hasil belajar belajar dan aktivitas siswa kelas I.7 SLTPN 20 Pekanbaru


Fakta-Fakta Unik
1.    Tujuan pembelajaran biologi adalah agar siswa dapat memahami, menemukan dan menjelaskan konsep-konsep, prinsip-prinsip dalam biologi.
2.    Pelajaran  biologi termasuk pelajaran pokok dalam bidang IPA di SLTP, proses belajar biologi adalah suatu yang bersifat ekspolarasi serta menemukan bukan menghafal semata-mata.
3.    Dalam proses belajar biologi  diperlukan strategi, bermacam pendekatan, metoda, media, agar siswa lebih aktif belajar dan berbuat untuk memahami konsep, prinsip-prinsip biologi sehingga diharapkan hasil belajar siswa lebih baik
4.    Pendekatan struktural TPS yang dikembangkan oleh Kagan dalam (Lie, A, 2002) ini mengajarkan siswa untuk lebih mandiri dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan sehingga dapat membangkitkan rasa percaya diri siswa, dimana siswa dapat bekerja sama orang lain dalam kelompok kecil yang heterogen.


PEMBAHASAN
1.    Daya Serap Siswa 
Nilai Post Test
1)      Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa terdapat peningkatan hasil belajar siswa dari pertemuan pertama sampai pertemuan keenam.
2)      Kegiatan belajar  mengajar  pada   pertemuan   pertama  hasil  post test masih kategori cukup, karena siswa belum  terbiasa dengan belajar kelompok yang dilakukan pada pertemuan berikutnya  siswa sudah  mulai menyesuaikan diri dengan kelompoknya dan sudah mulai memikirkan jawaban  dari  pertanyaan yang ada  dalam  LKS,  selanjutnya   siswa  sudah  dapat melaporkan hasil kelompoknya keseluruh kelasnya
3)      Sesuai dengan apa yang dikatakan  Frank Lyman dan Kagan (1995) yaitu Penerapan Pembelajaran Kooperatif dengan pendekatan Struktural TPS  memiliki prosedur yang ditetapkan untuk memberi siswa waktu agar dapat berfikir,  menjawab dan saling membantu satu sama lain sehingga termotivasi unruk mempelajari pokok bahasan Keanekaragaman Hewan

2.    Nilai UH (Ulangan Harian)
*      Dari nilai Ulangan Harian terlihat sudah banyak siswa termasuk kategori baik hal ini disebabkan karena siswa sudah berhasil mengurangi kelemahan yang ada dan terbiasa berbagi pengetahuan dan sama-sama berfikir untuk mencari jawaban yang diberikan guru.
*      Sesuai dengan yang apa yang dikatakan Spencer Kagan dalam Lie,A. (2002) bekerja dalam kelompok kecil diharapkan siswa lebih aktif bekerja untuk  menyeleseikan tugas-tugas akademik dan semua kelompok akan merasa terlibat di dalamnya, sehinggga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
*      Ketuntasan belajar biologi pada UH yaitu dari 42 orang siswa terdapat 38 orang siswa dinyatakan tuntas secara individual dan 4 orang siswa dinyatakan tidak tuntas.

3.    Aktivitas Siswa Selama PBM
*      Aktivitas siswa mengerjakan LKS termasuk katagori  baik sekali karena pertanyaan yang ada dalam LKS sesuai dengan apa yang diterangkan oleh guru sehingga  siswa aktif dan terpacu untuk menyelesaikannya.
*      Aktivitas siswa bekerja sama dengan pasangannya merupakan keunggulan dari pendekatan Struktural TPS, karena merupakan tahap awal bertanya pada teman sebelum bertanya pada pasangan lain
*      Aktivitas siswa berdiskusi pada saat kesimpulan, termasuk katagori cukup hal ini  disebabkan karena siswa agak ragu–ragu mengambil kesimpulan sendiri
*      Aktivitas siswa bertanya pada guru adalah termasuk katagori kurang  mulai dari pertemuan I sampai pertemuan VI dilihat dari rata–rata hanya 7,14 % saja siswa yang bertanya, ini disebabkan karena siswa takut bertanya, bila pertanyaannya ditertawakan temannya dan ia merasa malu.
*      Untuk itu peran guru sangat diperlukan disini, guru sebagi fasislitator harus mampu untuk mengaktifkan siswa untuk bertanya.




4.    Aktivitas Guru dalam PBM
*      Pada pertemuan I aktivitas guru 71,4%,  pertemuan II  85,7%. Pada pertemuan I dan II guru kurang mengawasi kelompok bekerja, kurang memberikan bantuan secara scafolding dan kurang memotivasi siswa.
*      Hal ini disebabkan karena guru belum mengerti tentang pendekatan struktural TPS.
*      Sedangkan pada  pertemuan III, IV, V, dan VI aktivitas guru 100%, dan dalam hal ini aktivitas guru sudah dikategorikan baik sekali, sehingga mendukung hasil belajar siswa dengan baik
*      Peranan guru sebagai fasilitator, motivator bagi siswa sehingga siswa termotivasi untuk belajar, bertanya, serta mampu menggungkapkan ide-ide yang ada dalam diri siswa.
*      Salah satu usaha guru dalam mendorong siswa agar aktif dan meningkatkan hasil belajarnya yaitu melalui pembelajaran kooperatif tipe struktural TPS.


KONSEP UTAMA
Terdapat beberapa hal yang  menjadi konsep utama dalam tulisan ini yaitu:
q  Konsep tentang pendekatan Struktural
q  Konsep tentang cooperative TPS
q  Konsep penerapan pendekatan dipandu startegi kooperatif TPS terhadap peningkatan hasil belajar siswa SLTP pada pelajaran mata pelajaran biologi

REFLEKSI
Ø  Dengan membaca dan memahami isi dari tulisan ini, saya memperoleh pengetahuan tambahan tentang upaya peningkatan hasil belajar biologi  melalui pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktur .
Ø  Dimana dalam strategi kooperatif dengan pendekatan struktural (1) sama-sama mendorong siswa untuk melakukan kerja kelompok guna meningkatkan hasi belajar siswa, (2) metode pembelajran kooperatif TSP meningkatkan kerja sama antar siswa yang bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya. Dengan kombinasi ini dapat mengakibatkan terlatihnya kemampuan siswa dalam meningkatkan hasil belajar siswa dan interaksi antar siswa dengan Guru serta siswa dengan siswa.
Ø  Oleh karena itu tulisan ini sebagai acuan untuk melaksanan PTK


REFLEKSI ANALISIS ARTIKEL IV


Ada banyak manfaat yang saya peroleh dengan analisis kritis artikel ini diantaranya saya dapat mengetahui bagaimana cara menuliskan latar belakang suatu masalah dan kajian pustaka walaupun sehingga  saya jadikan acuan dalam penulisan proposal PTK saya. Pada  pembahasan kajian pustaka saya memperoleh banyak pengetahuan tentang pendekatan kooperatif beserta teknik dan langkah – langkah  penerapannya. Kajian pustaka pada  artikel ini bisa saya adopsi menjadi  kajian pustaka bagi penelitian saya karena proposal yang saya buat juga membahas tentang usaha meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa dengan pendekatan interaktif yang dipandu oleh metode kooperatif.


ANALISIS KRITIS ARTIKEL V

PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KOMPETENSI SISTEM KOORDINASI MELALUI METODE PEMBELAJARAN TEACHING GAME TEAM TERHADAP SISWA KELAS XI IPA SMA SMART EKSELENSIA INDONESIA
Anailisi Artike ke Lima

BILBIOGRAFI
Purwanto, Rudy.2011. Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Pada Kompetensi Sistem Koordinasi Melalui Metode Pembelajaran Teaching Game Team Terhadap Siswa Kelas XI IPA SMA Smart Ekselensia Indonesia. Jurnal Pendidikan Dompet Dhuafa Edisi I/2011. http:// purwoudiutomo.com /2011/10/05/.peningkatan-motivasi-dan-belajar-siswa-dengan-metode pembelajaran-teaching-game-team. Diakses tanggal 20 maret 2012.

TUJUAN PENULISAN
*      Tujuan dari penulisan ini untuk menginformasikan kepada pembaca tentang Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Pada Kompetensi Sistem Koordinasi Melalui Metode Pembelajaran Teaching Game Team Terhadap Siswa Kelas XI IPA SMA Smart Ekselensia Indonesia

FAKTA-FAKTA UNIK
*      Penguasaan ilmu biologi merupakan hal yang penting menuju terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia

*      Penguasaan ilmu biologi tidak hanya   dicapai   melalui   menghafal   atau pemahaman konsep tetapi harus diiringi dengan penerapan 

*      Hasil belajar yang   sering  disebut dengan istilah “scholastic achievement” atau “academic   achievement”   adalah   seluruh kecakapan   dan   hasil   yang   dicapai   melalui proses   belajar   mengajar   di   sekolah   yang dinyatakan dengan angka-angka atau nilai-nilai berdasarkan tes hasil belajar (Briggs, 1979).

*      Menurut bruner (1962), ada 4 aspek utama yang harus menjadi perhatian dalam pembelajaran, yaitu struktur mata pelajaran, yang berisi ide-ide, konsep-konsep dasar, dan hubungan antar konsep atau contoh-contoh dari konsep   tersebut   yang   dianggap   penting; kesiapan   untuk   belajar,   yang   terdiri   atas penguasaan   keterampilan-keterampilan   yang lebih sederhana yang telah dikuasai terlebih dahulu dan yang memungkinkan siswa untuk memahami dan mencapai keterampilan yang lebih tinggi

*      Metode pembelajaran teaching game team  termasuk ke dalam model pembelajaran kooperatif   yang   mengadopsi   pembelajaran mandiri siswa dengan saling bertanya antar kelompok   secara   bergantian

*      Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Bruner (1962) bahwa empat aspek utama dalam pembelajaran harus diperhatikan, yaitu struktur mata pelajaran, kesiapan untuk belajar, intuisi,   dan   motivasi.

*      Sedangkan Bloom (1982:11) mengemukakan tiga faktor utama yang mempengaruhi   hasil   belajar,   yaitu kemampuan kognitif, motivasi berprestasi, dan kualitas pembelajaran.

*      Keberhasilan suatu   pembelajaran   sangat   ditentukan   oleh proses pembelajaran yang diperoleh dari data kualitatif.

*      Penelitian   kualitatif   adalah   suatu penelitian   yang   ditujukan   untuk  mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, dan pemikiran orang secara individual maupun   kelompok


PEMBAHASAN
Hasil Analisis dan Refleksi Pembelajaran pada Siklus 1
v  Proses   pembelajaran   siklus   1   dengan menerapkan   metode   pembelajaran  teaching game team pada mata pelajaran biologi secara kualitas dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

v  Hasil   refleksi   berupa   rumusan   yang   akan diiplementasikan pada siklus 2 walaupun proses dan hasil pembelajaran sudah tuntas adalah siswa diberi peningkatan stimulus agar dapat mempertahankan   bahkan   meningkatkan motivasi dan hasil pembelajaran dan dilakukan umpan   balik   berupa   penguatan   unjuk kerja/konsep harus diberikan secara langsung sebelum proses pembelajaran siklus 2 dimulai, sehingga   tingkat   kepuasan   siswa   terhadap penguasaan   materi   yang   dipelajari   dapat ditingkatkan.
Hasil Analisis dan Refleksi   Pembelajaran pada Siklus 2
v  Pembelajaran siklus 2 dilakukan pada pertemuan 3 (Rabu,13 April   2011)   dan pertemuan 4 (Senin, 18 April 2011). Pada tabel 3 dapat dilihat bahwa motivasi siswa (Ps)  memiliki rata-rata 92 sehingga masuk dalam kategori sangat baik; sedangkan hasil belajar siswa pada perlakuan/penilaian Pr (82), Pd (86), Pj (82), dan Pp (91) sehingga hasil belajar siswa 100%   tuntas (lihat pembahasan halaman 10).

Hasil   Analisis   dan   Refleksi   Pembelajaran pada Siklus 3
v  Pembelajaran siklus 3 dilakukan pada pertemuan   5   (Rabu,   20   April   2011)   dan pertemuan 6 (Senin, 2 Mei 2011). Pada tabel 5 dapat   dilihat   bahwa   motivasi   siswa   (Ps) memiliki rata-rata 85 sehingga masuk dalam kategori sangat baik; sedangkan hasil belajar siswa pada perlakuan/penilaian Pr (81), Pd (86), Pj (91), dan Pp (90) sehingga hasil belajar siswa 100% tuntas.

v  Jadi,   dapat   dikatakan   bahwa   proses pembelajaran   siklus   2   dengan   menerapkan metode pembelajaran teaching game team pada mata pelajaran biologi secara kualitas dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

v  Hasil penelitian tindakan kelas dengan menggunakan   pola   3   siklus   ternyata   dapat menguji hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian   ini,   yaitu   apabila   metode pembelajaran Teaching Game Team diterapkan pada   kompetensi   sistem   koordinasi,   maka motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA   SMART   Ekselensia   Indonesia   akan meningkat minimal dengan rata-rata baik dan nilai KKM adalah 70

v  Penurunan nilai beberapa siswa pada siklus 2 dan 3 disebabkan karena terlalu lelahnya siswa akibat banyaknya kegiatan di sekolah, sehingga guru   harus   lebih   kreatif   untuk   meciptakan lingkugan   belajar   yang   bagus   dan menyenangkan   agar   siswa   mendapatkan pembelajaran yang baik

v  Pentingnya peranan motivasi dalam keberhasilan pembelajaran, maka   diperlukan   lebih   banyak upaya-upaya untuk dapat meningkatkan motivasi siswa.

v  Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, dibutuhkan tiga tahap kegiatan, yaitu persiapan   belajar,   pelaksanaan   belajar   dan pengendalian belajar.

v  Tahapan tersebut sesuai dengan yang dituntut dalam penerapan metode pembelajaran teaching   game   team.

v  Metode teaching team memiliki   beberapa   keunggulan diantaranya adalah segera mendapat   perhatian   siswa, meningkatkan   pemahaman   karena   siswa berusaha   berkompetisi   dengan   kelompok lainnya untuk mendapatkan nilai yang baik, adanya kerjasama yang baik antara anggota kelompok siswa, dan menambah rasa percaya diri para siswa.

v  Sedangan kelemahan metode ini adalah ada kemungkinan siswa dalam kelompok tidak   aktif   bertanya   ataupun   menjawab pertanyaan   yang   diberikan   kelompok   lain.

v  Apabila keunggulan  metode  teaching   game team  dimaksimalkan   dan   kelemahannya diminimalisir,   maka   metode   tersebut   logis untuk dapat dijadikan pilihan alternatif dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

PERTANYAAN-PERTANYAAN YANG DAPAT DIMUNCULKAN
q  Apakah ada peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Pada Kompetensi Sistem Koordinasi Melalui Metode Pembelajaran Teaching Game Team Terhadap Siswa Kelas XI IPA SMA Smart Ekselensia Indonesia?
q   Bagaiman hasil penerapan pembelajaran kooperatif terhadap peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Pada Kompetensi Sistem Koordinasi Melalui Metode Pembelajaran Teaching Game Team Terhadap Siswa Kelas XI IPA SMA Smart Ekselensia Indonesia?



KONSEP UTAMA
Terdapat beberapa hal yang  menjadi konsep utama dalam tulisan ini yaitu:
q  Konsep tentang motivasi dan hasil belajar
Mc Donald (dalam Sardiman, 2001 : 71)   menyatakan   bahwa   motivasi   adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “perasaan/ feeling” dan didahului dengan tanggapan adanya tujuan. Motivasi   mengawali   terjadinya   perubahan energi pada   diri   manusia.
Motivasi ditandai dengan munculnya perasaan dan afeksi seseorang, artinya motivasi   relevan   dengan persoalan - persoalan kejiwaan, afeksi, dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
Menurut Gagne dan Driscoll (1988:36), hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui penampilan siswa (learner’s performance)
q  Konsep tentang kompetensi sistem koordinasi
Sistem koordinasi meliputi sistem saraf, sistem indera, dan  sistem  hormon.
q  Konsep tentang cooperative Teaching Game Team
Metode pembelajaran  teaching   game team  termasuk ke dalam model pembelajaran kooperatif   yang   mengadopsi   pembelajaran mandiri siswa dengan saling bertanya antar kelompok   secara   bergantian.
q  Konsep tentang kerangka berpikir
Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Bruner (1962) bahwa empat aspek utama dalam pembelajaran harus diperhatikan, yaitu struktur mata pelajaran, kesiapan untuk belajar, intuisi,   dan   motivasi.

REFLEKSI
Ø  Pada ulasan jurnal penelitian ini terlihat adanya suatu upaya untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar dari siswa, sehingga siswa lebih aktif dari pada guru yang memberikan informasi, yang pada akhirnya siswa sendiri yang menemukan jawaban dan dapat menguasai konsep serta tujuan dari guru sendiri juga tercapai.
Ø  Dimana dalam strategi kooperatif dengan menggunakan metode TGT Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat saling membantu dan bekerjasama dalam belajar. Siswa biasanya dilatih keterampilan-keterampilan spesifik untuk membantu mereka bekerjasama dengan baik, misalnya menjadi pendengar baik, memberikan penjelasan dengan baik, mengajukan pertanyaan dengan benar
Ø  Oleh karena itu tulisan ini sangat membantu saya dalam menyusun PTK terutama dalam pemilihan metode untuk mengkombinasikan dengan pendekatan interaktif.


REFLEKSI ANALISIS ARTIKEL V


Pada artikel ini dijelaskan juga tentang hipotesis penelitian, bagaimana cara menguji  hipotesis dan bagaimana  hasil pengujian hipotesis tetapi saya dapat tidak menggambil untuk mendukung penulisan proposal saya akan tetapi saya mengambil manfaat dari artikel ini bahwa strategi kooperatif dengan menggunakan metode TGT Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat saling membantu dan bekerjasama dalam belajar.
Siswa biasanya dilatih keterampilan-keterampilan spesifik untuk membantu mereka bekerjasama dengan baik, misalnya menjadi pendengar baik, memberikan penjelasan dengan baik, mengajukan pertanyaan dengan benar


ANALISIS KRITIS ARTIKEL VI

THE EFFECTS OF PROBLEM-BASED LEARNING INSTRUCTION ON UNIVERSITY STUDENTS’ PERFORMANCE OF CONCEPTUAL AND QUANTITATIVE PROBLEMS IN GAS CONCEPTS
Analisi Artikel Ke Enam


BIIBIOGRAFI
Bilgin, Ibrahim, dkk. 2008. The Effects of Problem-Based Learning Instruction on University Students’ Performance of Conceptual and Quantitative Problems in Gas Concepts. Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 2009, 5(2), 153 164.http://www.ejmste.com/v5n2/EURASIA_v5n2_Bilgin_etal.pdf. Akses tanggal 08 -05-2012.

PURPOSE OF WRITING
Purpose of writing this to inform the readers about The Effects of Problem-Based Learning Instruction on University Students’ Performance of Conceptual and Quantitative Problems in Gas Concepts.. 

FAKTA-FAKTA UNIK
*        Pickering, 1987; Pickering, 1990; Sawrey, 1990) suggest that there is little connection between solving a  quantitative problem and understanding the chemical concept behind that problem
*        The reasons for superficial rather than deep understanding on the part of students are many, including how we test, what expectations we set, and what learning materials we use when we teach
*        Standard college textbook problems in science and other disciplines tend to reinforce the students' naive view of learning because they can successfully answer homework end-of-chapter problems through memorization of facts and equations and using novice "pattern-match" problem-solving           coverage, and also it is a problem-oriented learning by techniques (Duch, Groh and Allen, 2001).
*        However, many studies showed that students frequently do not use conceptual understanding in solving chemistry problems; these studies also provided evidence that students were  limited in their ability to solve distant transfer problems  without an in-depth understanding of relevant chemistry concepts.
*        It is a method of instruction that uses ill-structured problems as a context for students to acquire problem solving skills and basic knowledge (Banta et al., 2000).
*        Besides PBL aims improve students’ ability to work in a team, showing their co-ordinated abilities to access information and turn it into viable knowledge. 
*        In a successful PBL, choosing an appropriate problem is curricial for students to go beyond a superficial understanding of the important concepts and principles  being taugnt (Duch, Groh and Allen, 2001; Ram, 1999)
*        At the heart of true PBL is an ill-structured problem that must be based in compelling, real world situations, generates multiple hypotheses, exercises problem-solving skills and requires creative thinking. In other words, ill-structured problems are those where the initial to develop a solution, and there is no one correct way to solve the problem (Chin and Chia, 2006; p.46).

THE DISCUSSION
*        The instructor also solved some problems during lecturing and worksheets, which included some conceptual and quantitative problems, were also distributed to all students. All completed worksheets were checked, corrected and returned back to the undergraduates to review their responses.
*        The independent sample t-test was used to determine whether there was a statistically significant mean difference between experimental and control.
*        The tests were evaluated by two instructors to appropriateness of items for content validity. The Cronbach’s alpha reliability of the tests was found as 0.84 and 0.77 on  QPGT and CPGT respectively
*        This study was conducted over a 10 lecture hours. The experimental and control groups were given CPGT and QPGT as pre-tests at the beginning of the study. In  the control group, instructor used lecture/discussion asking questions where they have difficulty in understanding. After instructor’s explanation, some concepts were discussed by instructor-directed questions
*        This process was repeated for every problem case. The remaining lecture time after the investigation of each problem case was spent by solving the related problems from the course textbook.
*        Based on the data obtained by the CPGT and the  QPGT, the students’ mean and standard deviation for  pre and post test scores for experimental and control  groups were shown in Table 2.
*        This analysis  revealed that observed covariance matrices of  dependent variables are equal across the experimental and the control groups (F=0.383; p>0.05). Therefore,
*        this assumption was not violated. Levene’s Test was used to check the assumption that error variance of  dependent variables is equal across the experimental and  control groups. All significant values for dependent  variables, post-CPGT scores (F (1, 76)=0.143; p>0.05) and post-QPGT scores (F (1, 76)=0.113; p>0.05), were greater than 0.05, suggesting the equality of variances  assumption was not violated.
*        The analysis showed that students’ pre-CPGT scores  have significant effects on their post-CPGT scores (F  (1, 74) = 14,744; p<0.05 ;η2 = 0,167). The results also indicated significant treatment effects (F (1, 74) = 10,326; p<0.05; η2=0,122).

KONCEP MAIN
*        The Effects of Problem-Based Learning
*        Conceptual and Quantitative
*        Problems in Gas Concep

REFLECTION


REFLEKSI ANALISIS ARTIKEL VI


Pada artikel ini saya tidak menggambil untuk mendukung penulisan proposal saya akan karena pada artikel yang saya analisi ini saya kuarang memahami hal ini disebakan karena sangat minim penguasaan saya dalam menterjehmankan dan memahami artikel dalam bahasa inggris, sebenarnya artikel ini sangat bagus untuk di kaji lebih jauh lagi. Hanya karena kendala utama saya dalam memahami tulisan artikelini . 


PENDAHULUAN


A.       Latar Belakang
Dalam perkembangan dunia ilmu pendidikan sekarang ini mempunyai peranan penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup suatu bangsa, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia.
 Pendidikan adalah usaha sadar dan bertujuan untuk mengembangkan kualitas manusia sebagai suatu kegiatan yang sadar akan tujuan. Aktivitas dalam mendidik yang merupakan suatu pekerjaan memiliki tujuan dan ada sesuatu yang hendak dicapai dalam pekerjaan tersebut, maka dalam pelaksanaannya berada dalam suatu proses yang berkesinambungan di setiap jenis dan jenjang pendidikan, semuanya berkaitan dalam suatu system pendidikan yang integral.
Tujuan langsung pendidikan saat ini adalah perubahan kualitas hasil belajar siswa baik ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketercapaian tujuan tersebut dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu faktor dari dalam diri peserta didik misalnya motivasi, dan faktor eksternal, misalnya media dan pendidik. Sebagaimana dikemukakan oleh Das Salirawati, ”Guru merupakan komponan pembelajaran yang berperan langsung dalam pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam memerankan fungsinya baik sebagai pemimpin, fasilitator, dinamisator, maupun sebagai pelayan.” (Salirawati,2004: 5)
Tidak disangkah bahwa guru merupakan faktor kunci dalam keberhasilan proses pendidikan sehingga kuantitas dan kualitas guru selalu menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat. Keberhasilan mengajar seorang guru tidak hanya berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar, misalnya tujuan yang jelas, menguasai materi, pemilihan metode yang tepat, penggunaan sarana, dan evaluasi yang tepat.
Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah keberhasilan guru dalam mencegah timbulnya perilaku subyek didik yang mengganggu jalannya proses belajar mengajar, kondisi fisik belajar dan kemampuan mengelolanya.
Dalam proses pembelajaran di kelas yang sangat urgen untuk dilakukan oleh seorang guru adalah mengupayakan atau menciptakan kondisi belajar mengajar yang baik. Dengan kondisi belajar yang baik diharapkan proses belajar mengajar akan berlangsung dengan baik pula. Proses pembelajaran yang baik akan meminimalkan kemungkinan terjadinya kegagalan serta kesalahan dalam pembelajaran. Maka dari itu penting sekali bagi seorang guru memiliki kemampuan menciptakan kondisi belajar mengajar yang baik dan untuk mencapai tingkat efektivitas yang optimal dalam kegiatan belajar mengajar.
Guru banyak menghadapi hambatan dan permasalahan dalam praktek pembelajaran di lapangan, sehingga sebagai praktisi pendidikan yang berinteraksi langsung dengan siswa, guru ditntut memiliki kemampuan menyikapi dan mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Permasalahan-permasalahan tersebut menuntut guru agar mengembangkan kreatifitas dalam melakukan praktek pembelajaran.
Sebagai subyek pembelajaran siswa harus diperhatikan sikap atau pola berpikir siswa. Siswa adalah individu yang memiliki keinginan dan rasa keingintahuan yang besar. Oleh karena itu sebagai seorang guru harus bertindak memfasilitasi dan memotivasi siswa untuk belajar. Selain itu guru  berperan sebagai pembimbing,  pendorong, fasilitator dan menjadi psikolog yang berusaha memberdayakan seluruh potensi siswa.
 Pembelajaran yang sering dipakai berorientasi kepada guru sehingga siswa hanya sebagai objek ajar yang terus dijejali dengan segudang informasi. Siswa tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan eksistensi dirinya guna berpartisipasi dalam pembelajaran. Fenomena seperti ini mengakibatkan menurunnya motivasi berprestasi siswa untuk belajar yang pada akhirnya keberhasilan pembelajaran menjadi berkurang.
Pola pembelajaran konvensional seperti ceramah merupakan pembelajaran yang sering digunakan oleh para pengajar. Hal ini dimungkinkan tetap digunakan oleh guru dengan mempertimbangkan aspek kemudahan, keefektifan, serta biaya. Pembelajaran ini cenderung menimbulkan kebosanan pada diri siswa karena siswa tidak ikut berperan aktif di dalam proses pembelajarannya. Hal ini akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Ada 2 kemungkinan yang harus dilakukan oleh pengajar agar tidak mempengaruhi siswa yaitu dengan beralih ke pola pembelajaran modern atau mengkombinasikan dengan model yang baru.
Biologi merupakan salah satu disiplin ilmu yang sangat kompleks. Keilmuannya bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Untuk mempelajarinya, perlu pembelajaran yang menyenangkan guna mencapai kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran. Beberapa faktor yang dapat mendukung tercapainya kompetensi dasar di antaranya adalah metode pembelajaran, pendekatan dalam proses pembelajaran, penguasaan materi, dan fasilitas pembelajaran seperti kelas, ruang laboratorium, ruang perpustakaan serta media pembelajaran yang digunakan.
Selama ini peserta didik berpendapat bahwa belajar biologi adalah belajar hafalan. Salah satu alasan peserta didik berpendapat demikian, karena di dalam mata pelajaran biologi banyak istilah-istilah bahasa latin atau yang dilatinkan yang dirasa sulit oleh peserta didik, sehingga mereka tidak termotivasi untuk mempelajari biologi dengan baik. Pemilihan   metode   pembelajaran   yang   tepat
diperlukan   karena   akan   sangat   menentukan kemampuan   siswa   dalam   meningkatkan motivasi belajar.
Berbagai penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual melalui model pembelajaran Think-Pair-Share adalah diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Rosmaini  S dkk (2004) , Nina Septriana dan Budi Handoyo (2006),  Margaret Bowering dkk (2007) dan Helen Ngozi ibe (2009). Menyatakan bahwa model pembelajaran Think-Pair-Share dapat membantu meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Salah satu wujud kompetensi tersebut adalah keterampilan berfikir dan kerjasama siswa. Aktivitas berpikir dan kerjasama siswa dalam proses pembelajaran sangat berpengaruh pada pencapaian tujuan pembelajaran. Melalui keaktifan siswa dan kerjasama diharapkan prestasi belajar siswa akan mengalami peningkatan.
Salah satu cara untuk mengembangkan kompetensi siswa dalam kerjasama adalah melalui penerapan pembelajaran konstektual dengan metode kooperatif. Pengajaran kooperatif berfokus pada penggunaan sekelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Untuk meningkatkan hasil belajar biologi siswa, dapat diwujudkan dengan penerapan pendekata  interaktif dengan metode kooperatif, oleh karena itu saya ingin mengkaji lebih jauh tentang” Peningkatan Proses dan Hasil Belajar Biologi Menggunakan Pendekatan Interaktif melalui Model Pembelajaran Think-Pair-Share pada Peserta Didik Kelas X SMA

B.       Rumusan masalah
Dari urian latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut”
1.      Apakah pendekatan interaktif melalui metode  kooperatif Think-Pair-Share (TPS) mampu meningkatkan hasil dan proses belajar biologi siswa di SMA ? 
2.      Apakah pendekatan interaktif melalui metode  kooperatif Think-Pair-Share (TPS) mampu meningkatkan hasil dan aktivitas belajar biologi siswa dikelas?
3.      Bagaimana penerapan pendekatan iteraktif melalui metode  kooperatif Think-Pair-Share (TPS) mampu meningkatkan hasil, proses dan aktivitas belajar biologi siswa dikelas


KAJIAN PUSTAKA


A.       Hakikat Belajar
Belajar adalah suatu usaha. Perbuatan yang dilakukan secara sungguh-sungguh, dengan sistematis, mendayagunakan semua potensi yang dimiliki, baik fisik, mental serta dana, panca indra, otak dan anggota tubuh lainnya, demikian pula aspek kejiwaan seperti intelejensi, bakat, motivasi, minat dan sebagainya.
Gagne (1977): Belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia seperti sikap, minat, atau nilai dan perubahan kemampuannya yakni peningkatan kemampuan untuk melakukan berbagai jenis performance (kinerja).
Sunaryo (1989:1): Belajar adalah suatu kegiatan dimana seseorang membuat atau menghasilkan suatu perubahan tingkah laku yang ada pada dirinya dalam pengetahuan, sikap dan ketrampilan.
Sedangkan menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhannya hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku (http://www.scribd.com/doc/22588479/Hakikat-Belajar),diakses tanggal 20 maret 2012.
Menurut Degeng (1997:1) bahwa pembelajaran mengandung makna kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode atau strategi yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.
Dari beberapa definisi di atas belajar ialah suatu proses usaha dan perbuatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku. Seseorang yang melakukan aktivitas belajar akan memperoleh perubahan dalam dirinya dan akan memperoleh pengalaman baru dalam hidupnya.
Menurut Skinner yang dikutip Barlow dalam Muhibbinth belajar adalah suatu proses adaptasi yang berlangsung secara progresif. Berdasarkan eksperimennya, B.F. Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguatan (reinforcer)
Secara intitusional (tinjauan kelembagaan) belajar dipandang sebagai proses validasi atau pengabsahan tehadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Bukti institusional yang menunjukkan siswa telah belajar dapat diketahui sesuai dengan proses mengajar.
Sedangkan belajar secara kualitatif (tinjauan mutu) ialah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia disekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi siswa

B.       Hakikat Hasil Belajar
Menurut Crow and Crow dalam Sofyan mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan perolehan kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap. Pemerolehan ini termasuk suatu cara baru melakukan sesuatu dan cara mengatasi masalah pada situasi baru.
Hasil belajar merupakan peristiwa yang bersifat internal dalam arti sesuatu yang terjadi di diri seseorang. Peristiwa tersebut dimulai dari adanya perubahan kognitif yang kemudian berpengaruh pada perilaku. Dengan demikian perilaku seseorang didasarkan pada tingkat pengetahuan terhadap sesuatu yang dipelajari yang kemudian dapat diketahui melalui tes, dan pada akhirnya muncul hasil belajar dalam bentuk nilai riel atau non riel.
Pencapaian belajar atau hasil belajar diperoleh setelah dilaksanakannya suatu program pengajaran. Penilaian atau evaluasi pencapaian hasil belajar merupakan langkah untuk mengetahui seberapa jauh tujuan kegiatan belajar mengajar (KBM) suatu bidang studi atau mata pelajaran telah dapat dicapai. Jadi hasil belajar yang dilihat dari tes hasil belajar berupa keterampilan pengetahuan integensi, kemampuan dan bakat individu yang diperoleh di sekolah biasanya dicerminkan dalam bentuk nilai-nilai tertentu. Tes bertujuan untuk membangkitkan motivasi siswa agar dapat mengorganisasikan pelajaran dengan baik.


C.       Motivasi dan Hasil Belajar
Kata motivasi berasal dari kata “motif” yang   merupakan   terminologi   umum   yang bermakna daya dorong, keinginan, kebutuhan, dan kemauan. Motif yang telah aktif disebut motivasi. Mc Donald (dalam Sardiman, 2001 71)   menyatakan   bahwa   motivasi   adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “perasaan/ feeling” dan didahului dengan tanggapan adanya tujuan.
Motivasi   mengawali  terjadinya   perubahan energi   pada   diri   manusia. Perkembangan motivasi akan mengubah energi di dalam system neurophysiological manusia yang berpengaruh terhadap kegiatan fisik manusia. Motivasi ditandai dengan munculnya perasaan dan afeksi seseorang, artinya motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi, dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia. Karena motivasi merupakan respon dari suatu aksi, motivasi akan terangsang dengan adanya tujuan.
Sejak tahun 1940-an David McClelland mengembangkan teori mengenai motivasi yang difokuskan pada  personality, dan temuannya yang sangat  terkenal   disebutkan   bahwa kesuksesan seseorang ditentukan oleh perilaku

D.      Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan teori belajar yang berhubungan dengan
cara seseorang memperoleh pengetahuan, yang menekankan pada penemuan
makna (meaningfulness). Perolehan pengetahuan tersebut melalui informasi
dalam struktur kognitif yang telah ada hasil sebelumya dan siap dikonstruk
untuk mendapatkan pengetahuan baru
Dalam  perkembangannya, konstructivisme  memang  banyak  digunakan dalam pendekatan-pendekatan  pembelajaran.  Konstruktivisme  pada  dasarnya  adalah  suatu pandangan  yang  didasarkan  pada  aktivitas  siswa  dengan  untuk  menciptakan, menginterpretasikan,  dan  mereorganisasikan  pengetahuan  dengan jalan  individual (Windschitl,  dalam  Abbeduto,  2004).  Sejalan  dengan  pendapat  tersebut  menurut Schwandt  (1994)  bahwa  konstruktivisme  adalah  seperti  interpretivis  dan  konstruktivis.   Hal ini sejalan pula dengan pendapat von Glaserfeld (1987) bahwa pengetahuan bukanlah suatu komunikasi dan komoditas dapat dipindahkan dan tak satu  pengantar-pun itu ada.
Sedangkan menurut Battencourt dalam Pannem konstruktivisme tidak bertujuan untuk mengerti kenyataan tetapi lebih menggambarkan proses kita menjadi tahu akan sesuatu
Belajar lebih diarahkan pada pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya dalam kegiatan belajar mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada si pembelajar
Menurut pandangan konstruktivisme setiap individu mengkonstruksi pengetahuan secara aktif, tidak hanya mengimitasi dan membentuk bayangan dari sesuatu tang diamati atau diajarkan oleh guru melainkan individu tersebut menyeleksi, menyaring, memberi arah dan menguji atas informasi yang diterimanya.

E.       Keterampilan Proses Sains
Pembelajaran sains yang sekarang dikehendaki dalam kurikulum KTSP sekarang ini adalah pembelajaran yang disarkan pada prinsip-prinsip ilmiah, proses ilmiah maupun produk ilmiah menghendaki berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dalam kegiatan belajar mengajar
Menurut Rustaman, keterampilan proses melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif atau intelektual, manual, dan sosial. Keterampilan kognitif atau intelektual dengan melakukan keterampilan proses siswa menggunakan pikirannya, keterampilan manual terlibat dalam penggunaan alat dan bahan, pengukuran, penyusunan atau perakitan alat, keterampilan sosial dimaksudkan bahwa dengan keterampilan proses siswa berinteraksi dengan sesamanya dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar
Aspek-aspek kemampuan yang dikembangkan dalam keterampilan proses sains dalam Rustaman adalah: mengamati, mengelompokan, menafsirkan /interpretasi, meramalkan, mengajukan pertanyaan, berhipotesis, merencanakan percobaan, menggunakan alat atau bahan, menerapkan konsep dan berkomunikasi. Menurut Mundilarto proses sains diturunkan dari langkah-langkah yang dilakukan saintis ketika melakukan penelitian ilmiah, langkah-langkah tersebut dinamakan keterampilan proses.[1] Keterampilan proses sains dapat juga diartikan sebagai kemampuan atau kecakapan untuk melaksanakan suatu tindakan dalam belajar sains sehingga menghasilkan konsep, teori, prinsip, hukum maupun fakta atau bukti.
Jenis-jenis keterampilan proses sains menurut Rustaman, adalah sebagai berikut:
1.    Melakukan pengamatan (observasi)
Menggunakan indera penglihat, pembau, pendengar, pengecap dan peraba. Menggunakan fakta yang relevan dan memadai dari hasil pengamatan juga termasuk keterampilan proses mengamati.
2.    Menafsirkan pengamatan (interpretasi)
Mencatat setiap pengamatan, menghubungkan hasil pengamatan dan menemukan pola keteraturan dari satu seri pengamatan dan menyimpulkannya.
3.    Mengelompokkan (klasifikasi)
Dalam proses pengelompokkan tercakup beberapa kegiatan seperti mencari perbedaan, mengontraskan ciri-ciri, mencari kesamaan, membandingkan, dan mencari dasar penggolongan.
4.    Meramalkan (prediksi)
Keterampilan meramalkan atau prediksi mencakup keterampilan mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi berdasarkan suatu kecenderungan atau pola yang sudah ada.
5.    Berkomunikasi
Membaca tabel, grafik atau diagram, menggambarkan data empiris dengan grafik, tabel atau diagram, menjelaskan hasil percobaan, menyusun dan menyampaikan laporan secara sistematis dan jelas.
6.    Berhipotesis
Hipotesis menyatakan hubungan antara dua variabel, atau mengajukan perkiraan penyebab sesuatu terjadi. Dengan berhipotesis diungkapkan cara melakukan pemecahan masalah, karena dalam rumusan hipotesis biasanya terkadang cara untuk mengujinya.
7.    Merencanakan percobaan atau penyelidikian
Beberapa kegiatan menggunakan pikiran termasuk ke dalam keterampilan proses merencanakan penyelidikan. Apabila dalam lembar kegiatan siswa tidak dituliskan alat dan bahan secara khusus, tetapi tersirat dalam masalah yang dikemukakan, berarti siswa diminta merencanakan dengan cara menentukan alat dan bahan untuk penyelidikan tersebut. Menentukan variabel atau peubah yang terlibat dalam suatu percobaan, menentukan variabel kontrol dan variabel bebas, menentukan apa yang diamati, diukur dan ditulis, serta menentukan cara dalam penyusunan rencana kegiatan penelitian perlu ditentukan cara mengolah data untuk dapat disimpulkan, maka dapat merencanakan penyelidikanpun terlibat kegiatan menentukan cara mengolah data sebagai bahan untuk menarik kesimpulan.
8.    Menerapkan konsep atau prinsip
Apabila seorang siswa mampu menjelaskan peristiwa baru dengan menggunakan konsep yang telah dimiliki, berarti ia menerapkan prinsip yang telah dipelajarinya. Begitu pula apabila siswa menerapkan konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru.
9.    Mengajukan pertanyaan
Pertanyaan yang diajukan dapat meminta penjelasan, tentang apa, mengapa, bagaimana, atau menanyakan latar belakang hipotesis. Dengan demikian jelaslah bahwa bertanya tidak sekedar bertanya tetapi melibatkan pikiran

F.        Pendekatan Interaktif
Menurut Faire dan Cosgrove dalam Rustaman pendekatan interaktif dikenal sebagai pendekatan pertanyaan anak, memberi kesempatan pada siswa untuk kemudian melakukan penyelidikan yang berkaitan dengan pertanyaan yang mereka ajukan
Model pembelajaran interaktif adalah suatu pendekatan yang merujuk pada pandangan konstruktivis yang menitikberatkan pada pertanyaan siswa sebagai ciri sentralnya dengan cara mengali pertanyn-pertanyaan siswa. Di dalam model pembelajaran ini siswa diberi kesempatan untuk melibatkan keingintahuannya terhadap obyek yang akan dipelajari, kemudian melakukan penyelidikan tentang pertanyaan mereka sendiri
Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah dan menampilkan suatu struktur pembelajaran IPA melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan peserta didik sebagai pusatnya. Keberanian siswa untuk mengajukan pertanyaan yang diajukan terhadap obyek yang diamati merupakan langkah awal untuk belajar terampil dalam berpikir.
Sesuai dengan karakteristik pendekatan interaktif, maka pertanyaanpertanyaan
siswa perlu digali. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul mencerminkan rasa ingin tahu siswa setelah melakukan kegiatan eksplorasi.
Menurut Car dalam Yuhasriati untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal dapat dilakukan dengan cara membiasakan siswa untuk mengajukan soal. Demikian juga menurut Suranto menyatakan bahwa mengajukan soal dapat melatih siswa untuk terbiasa berpikir secara matematis atau menggunakan polapikir matematis
Louisel dan Descamps dalam Suartini mengemukakan bahwa pertanyaan dalam proses pembelajaran memiliki tiga tujuan pokok, yaitu: meningkatkam tingkat berpikir siswa, mengecek pemahan siswa, meningkatkan parsipasi belajar siswa
Menurut Saidiman dalam Hamzah bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respon dari seseorang yang dikenali. Respon yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Jadi betanya, merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berpikir
Dalam tahap investigasi ini digunakan cara observasi atau pengamatan. Dalam investigasi/penyelidikan dengan cara observasi atau pengamatan pengetahuan yang diperoleh sebagian besar didasarkan pada hasil usaha sendiri atas keterampilan yang dimikinya sehingga pesrta didik mempunyai kesempatan yang luas untuk mencari dan menemukan sendiri apa yang dibutuhkannya.

G.      Model  Pembelajaran Kooperatif
Sanjaya (2009: 240), model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan atau tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen). Menurut Suyatno (2009), model pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkonstruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri.
Slavin (2010: 8) pembelajaran kooperatif bukan hanya sebuah teknik pengajaran yang ditujukan untuk meningkatkan pencapaian prestasi para siswa, ini juga merupakan cara untuk menciptakan keceriaan, lingkungan yang pro-sosial di dalam kelas, yang merupakan salah satu manfaat penting untuk memperluas perkembangan interpersonal dan keefektifan.
Menurut Suprijono (2010: 90), model pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau prilaku bersama atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang  teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orangMenurut Sanjaya (2009: 247), pembelajaran kooperatif mempunyai keunggulan, yaitu:
1.    Melalui pembelajaran kooperatif siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa lain.
2.    Pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
3.    Pembelajaran kooperatif membantu anak untuk respek pada orang lain menyadari akan segala keterbatasan serta menerima segala perbedaan.
4.    Pembelajaran kooperatif dapat membantu memberdayakan setiap siswa lebih bertanggungjawab dalam belajar. Pembelajaran kooperatif cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan
5.    sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan mengatur waktu, dan sikap positif terhadap sekolah.
6.    Pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahaman sendiri serta menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggungjawab kelompoknya.
7.    Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil).
8.    Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir. Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.
Menurut Sanjaya (2009: 248), pembelajaran kooperatif juga memiliki kelemahan, yaitu:
1.    Untuk memahami dan mengerti filosofi pembelajaran kooperatif memang butuh waktu. Sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami filsafat cooperatif learning. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan, contohnya, mereka akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan. Akibatnya, keadaan macam ini dapat menganggu iklim kerja sama dalam kelompok.
2.    Ciri utama dari pembelajaran kooperatif adalah bahwa siswa saling membelajarkan. Oleh karena itu, jika tanpa peer teaching yang efektif, maka dibandingkan dengan pembelajaran langsung dari guru, bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa.
3.    Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari, bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah setiap individu siswa.
4.    Keberhasilan suatu pembelajaran kooperatif dalam upaya untuk mengembangkan suatu kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang, dan hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-kali penerapan.
Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual. Oleh karena itu idealnya melalui pembelajaran kooperatif selain siswa belajar bekerja sama, siswa juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan sendiri. Untuk mencapai kedua hal itu dalam pembelajaran kooperatif memang bukan pekerjaan yang mudah.

H.      Pembelajaran  Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)
Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam Think Pair Share (TPS) dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu (Trianto, 2010: 81).
Menurut Trianto (2010:81), guru memilih menggunakan  thing pair share (TPS) adalah sebagai berikut:
1.        Tahap-1: Berpikir (Thinking) guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pembelajaran, kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
2.        Tahap-2: Berpasangan (Pairing) guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau berbagi.
3.        Tahap-3: Berbagi (Sharing) pada tahap akhir, guru meminta pada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang mereka bicarakan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai seperempat pasangan telah mendapatkan kesempatan untuk melaporkan. Melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas.





BAB III
METODELOGI PENLITIAN


A.       Metode Penelitian
Dalam  penulisan  penelitian ini,  penulis  menggunakan  metode  penelitian Kualitatif, dengan mendeskripsikan keadaan yang sebenarnya dari fenomena objek yang menjadi sasaran penelitian

B.       Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Kelas X semester 1 tahun ajaran 2011/2012. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan bulan November 2012.

C.       Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain deskriptif  yaitu penelitian yang menggambarkan keadaan yang sebenarnya dari fenomena objek yang diteliti. Dan dalam penelitian menggunakan metode kooperatif TPS yang di dalamnya ada  pretest, posttest dan ulangan harian serta aktivitas siswa.

D.        Subyek penelitian
Subyek penelitian ini adalh seluruh siswa SMA kelas X semester I.

E.       Prosedur Penelitian
Pada prosedur penelitian ini menggunakan pendekatan iteraktif melaui metode kooperatif Think–Pair-Share (TPS), yang terdiri dari satu siklus dengan 6 kali pertemuan. Penelitian ini terdiri dari 4 tahap yaitu :
1.    Tahap persiapan, yaitu membuat jadwal penelitian, membuat RP, membuat LKS, membuat test hasil belajar.
2.     Tahap pelaksanaan, terdiri dari : a). Pendahuluan, yaitu  memberi motivasi pada siswa, dan menginformasikan pada siswa tentang konsep-konsep yang akan mereka pelajari. b). Kegiatan inti, yaitu pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan thinking, pairing, sharing. c). Penutup, yaitu memberikan kesimpulan dan evaluasi.
3.    Tahap observasi, yang dilaksanakan oleh tim peneliti tindakan dan sejalan dengan pelaksanaan tindakan.
4.    Tahap Refleksi dilaksanakan setelah selesai pelaksanaan tindakan untuk melihat apakah pelaksanaan tersebut telah sesuai dengan prosedurnya dan untuk merencanakan siklus berikutnya.

























DAFTAR PUSTAKA

Amri, Sofan. 2010. Proses Pembelajaran Inovatif dan Kreatif dalam Kelas. Jakarta: Prestasi Pustakaraya

Apriyani,Dwi.2008.Peningkatan hasil belajar biologi siswa dengan Menggunakan pendekatan interaktif pada konsep Sistem pernapasan pada manusia. Universitas Islam Negeri syarif HidayatullahJakarta.http://idb4.wikispaces.com/file/view/ss4006.pdf. Diakses pada tanggal22 Maret 2012

Fitria, Erwina.2011. Metode  Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dengan Menggunakan Handout. Biologi- FKIP UIR: Pekanbaru
Nuryani Y. Rustaman. 2009. Pengembangan butir soal keterampilan proses sains. FPMIPAUPI, http://www//onengdalilah.blogspot.com/2009/02pengembangan-butir-soal-keterampilan.html. diakses pada tanggal 24 April 2012

Nurtafita, nita. 2011. Pengaruh pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap keterampilan proses sains siswa Pada konsep kalor http://www.scribd.com/doc/56428143/24/Keterampilan-Proses-Sains. Diakses tgl 8 Mei 2012.
Rustaman,  Nuryani.2003.   Keterampilan  Dasar  Mengajar  IPA  Berbasis Konstruktivisme. Malang: Universitas Negeri Malang
Putu Arnyana, Ida Bagus . 2008. Pengaruh penerapan model PBL dipandu startegi kooperatif terhadap kecakapan berpikir kritis siswa SMA pada pelajaran mata pelajaran biologi”. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan .www/// msalah  pendidikan _biologi/ com//0072//doc//., htlm. Diakses tgl 22 Maret 2012.

S, Rosmaini, Evi Suryawati dan N.L, Mariani.2003. Penerapan pendekatan struktural Think–Pair–Share (TPS) Untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas  Siswa kelas I7  SLTPN 20 pekanbaru  Pada pokok bahasan keanekaragaman hewan ta. 2002/2003. jurnal Biogenesis Vol. 1(1):9-14, 2004. ISSN : 1829-5460. Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau http//www//biologi-fkip.unri.ac.id/karya_tulis/rosmaini.pdf. diakses pada tanggal 22 Maret 2012.
Yusuf , Yustini dan Natalina , Mariani . 2005. upaya peningkatan hasil belajar biologi  melalui pembelajaran kooperatif  denga pendekatan struktur  di kelas 17 sltp negeri 20 pekanbaru ”. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan . www/// msalah  pendidikan _biologi/ com//0072//doc//., htlm. Diakses tgl 22 Maret 2012




REFLEKSI PEMBUATAN PROPOSAL


Pada awal membuat rumusan masalah PTK, saya merakan sedikit masalah dalam menmukan permasalahan, hal ii dikarenakan bayak teman-teman mengangkat masalah yang sama. Disini kami membahas tentang identifikasi masalah dan perumusan masalah yang didiskusikan  secara berkelompok tiap kelompok terdiri dari 3 orang mahasiswa yang dilanjutkan dengan salingmemberikan masukan untuk  rumusan malasah yang telah dibuat.
Pada pertemuan – pertemuan selanjutnya dibahas tentang bab – bab dalam proposal  dan dilanjutkan dengan penugasan membuat bab – bab yang dibahas pada pertemuan itu, cara seperti ini sangat efektif dan sangat membantu mahasiswa dalam memahami cara penyusunan proposal PTK tiap – tiap bab.
Bagi saya ada suatu kendala dalam penyusunan proposal PTK ini hal ini disebabkan karena saya baru mengenal tentang PTK maka penjelasan  dari dosen tentang bab – bab dalam proposal PTK banyak yang tidak bisa saya tangkap esensinya, saya baru bisa mendapatkan pencerahan yang cukup setelah produk dibuat dan dipresentasikan di depan kelas dan ditanggapi/dikritisi oleh para mahasiswa dan dosen,tetapi masalahnya tidak semua pertemuan dapat digunakan untuk menampilkan bab – bab proposal untuk dipresentasikan sehingga pada bab – bab yang tidak dipresentasikan itu  tidak bisa saya pahami secara maksimal terlebih pada bagian metodelogi penelitian
Dalam penyusun proposal terlebih khusus dalam penyusunan latar belakang masalah dan penetuan judul penelitian saya banyakmengalamiperubahan,halini dkarenakan metode yang saya kaji hanya berupa pendekatan saja sehingga di cari kaloborasi antara pendekatan interaktif dengan metode kooperatif.
Satu hal yang sangat membanggakan buat saya ketika proposal yang saya buat dikembalikan  lengkap dengan catatan – catatan koreksi dari dosen baik tentang hal – hal yang belum dituangkan dalam proposal sampai pada tanda baca dan cara menulis kutipan yang benar, dengan catatan – catatan itu saya menjadi tahu tentang penulisan proposal PTK lebih banyak daripada sebelum proposal saya dikembalikan.
 Tetapi untuk perubahan latar belakang dan judulpenelitian yang baru saya selesaikan tidak dapat dikoreksioleh ibu, karena kelalian saya sendiri yang lupa memberikan kepada ibu Hera.




























REFLEKSI AKHIR SEMESTER.


Pada Mata workshop Penelitian Tindakan Kelas (PTK) diampu oleh  Ibu profesor Herawati Susilo, banyak memberikan informasi-informasi baru tentang PTK disamping itu juga banyak melatih  mahasiswa untuk membuat jurnal kuliah  dalam kegiatan pembelajaran. Mahasiswa juga dilatih membuat analisis kritis artikel  sebagai langkah awal melatih mahasiswa menjadi penulis artikel ilmiah serta mahasiswa juga dilatih membuat proposal penelitian secara bertahap .
Ilmu pegetahuan tetang PTK yang disampaikan oleh Ibu  Hera sangat memberikan mamfaat untuk saya dalam menyesuaikan proposal penelitian.
Bu Hera, sangat paham dengan karakter kami sehingga dalam workshop berjalan dengan efektif. Dan ibu hera juga banyak memberikan humor berupa cerita yang bisa menjadi pelajaran  dalam kehidupan baik tentang semangat hidup, semangat berkarya dan lain lain. Saya memperoleh banyak kata kunci dalam penyusunan PTK dari Bu Hera.
Sebelum saya mengakiri refleksi saya ingi mengucapkan banyak terimah kasih untuk ibu Hera yang telah membantu menyalur pengetahuan dan informasi serta cara untuk menemukan metode jitu untuk menyusun proposal dengan menganalisis kritis artikel kepada kami selama satu semester ini.  













PENGECEKAN PORTOFOLIO OLEH DIRI SENDIRI
Portofolio Anda memenuhi kriteria  (+++) = istimewa                  (vv) = memuaskan
                                                               (++)  = sangat bagus         (v)   = lumayan
                                                               (+v)  = bagus                       (-)   = kurang   
.......1. Daftar Isi yang menunjukkan isi portofolio
...... 2. Bukti-bukti yang dengan jelas diberi label sesuai yang tertulis dalam Daftar isi untuk menunjukkan konteks penyusunannya, respons Anda mengenai hal tersebut, perkembangan diri Anda sebagai penulis/peneliti, dan penilaian Anda mengenai hal tersebut
...... 3. Pendahuluan yang menceritakan tentang latar belakang Anda dalam bidang kemampuan melakukan penelitian dan perkembangan Anda dalam bidang tersebut selama ini.
...... 4. Keterangan khusus sebagai pengantar untuk suatu bukti tertentu
...... 5. Sejumlah bukti hasil karya Anda semester ini.
·        Jurnal belajar PTK
·        Analisis kritis artikel 1
·        Analisis kritis artikel 2
·        Analisis kritis artikel 3
·        Analisis kritis artikel 4
·        Analisis kritis artikel 5
·        Analisis kritis artikel 6
·        Sejarah Pengembangan Proposal Penelitian
Ø  Pilihan/rumusan masalah penelitian
Ø  Latar Belakang penelitian
Ø  Kajian Pustaka
Ø  Hipotesis penelitian
Ø  Draft rancangan penelitian
Ø  Draft instrument penelitian
·        Draft Proposal akhir (pisahkan dari portofolio)
...... 6. Kerapian portofolio dan urutan penyajian yang tepat.
...... 7.Ada satu bukti yang menunjukkan proses penulisan persiapan presentasi lengkap (bonus untuk yang presentasi)
...... 8. Beberapa bukti tambahan perlu dimasukkan dan dianalisis karena alasan
·        favorit/sangat menarik/sangat bermanfaat
·        sangat sulit atau menantang
...... 9. Kualitas keseluruhan dari karya akhir yang telah disempurnakan:
·        selesai dikembangkan dengan sempurna
·        menunjukkan bukti proses/usaha
·        menunjukkan koherensi/organisasi yang baik
·        kreativitas/keefektifan rhetorik
·        tata bahasa, pengetikan
·        Kualitas keseluruhan hasil refleksi/analisis (dalam pendahuluan umum dan dalam melabel masing-masing bukti)
...... 10. Nilai portofolio Anda untuk semester ini
Komentar: (tuliskan dibalik kertas ini)
























PENGECEKAN PORTOFOLIO AKHIR SEMESTER OLEH TEMAN

Kelas : ………    Program Studi : ……………….

Nama Pemilik Portofolio      : _______________________________
Nama Penilai                                                                                                                                                 : _______________________________

Gunakan Lembar Pengecekan Portofolio ini untuk melakukan pengecekan penyajian dan kelengkapan portofolio teman Saudara.
Dengan memeriksa portofolio ini Saudara mendapat kesempatan untuk membandingkan portofolio Saudara dengan portofolio teman dan membantu saya mengumpulkan data portofolio kelas ini.

Periksalah portofolio rekan Saudara itu dan berilah tanda
+ (plus)    untuk tampilan/sajian yang istimewa
v (cek)     untuk tampilan/sajian yang memuaskan
- (minus)  untuk tampilan/sajian yang kurang
0 (nol)      kalau tampilan yang seharusnya ada, tidak ada
Dan jawablah pertanyaan yang diajukan di tempat yang telah disediakan.

1.    (        ) Sampul Depan Portofolio
2.    (        ) Kata Pengantar
3.    (        ) Daftar Isi
4.    (        ) Pendahuluan
5.    a. (        ) Identitas Jurnal
b. (        ) Jurnal Belajar
·                 Berapa masing-masing entry untuk
Bulan Januari 2012? __________
Bulan Februari 2012? ________
Bulan Maret 2012? __________
Bulan April 2012? ___________
Bulan Mei 2012?____________
c. (        ) Refleksi Diri tentang jurnal
6.    a. (        ) Identitas Naskah Pertama Analisis Kritis Artikel Jurnal/Internet
b. (        ) Naskah Artikel
c. (        ) Naskah Terjemahan
d. (        ) Hasil Analisis Kritis
e. (        ) Refleksi Hasil Analisis Kritis
7.    a. (        ) Identitas Naskah Kedua Analisis Kritis Artikel Jurnal/Internet
b. (        ) Naskah Internet
c. (        ) Naskah Terjemahan
d. (        ) Hasil Analisis Kritis
e. (        ) Refleksi Hasil Analisis Kritis
8.    a. (        ) Identitas Naskah Ketiga Analisis Kritis Artikel Jurnal/Internet
b. (        ) Naskah Artikel
c. (        ) Naskah Terjemahan
d. (        ) Hasil Analisis Kritis
e. (        ) Refleksi Hasil Analisis Kritis
9.    a. (        ) Identitas Naskah Keempat Analisis Kritis Artikel Jurnal/Internet
b. (        ) Naskah Internet
c. (        ) Naskah Terjemahan
d. (        ) Hasil Analisis Kritis
e. (        ) Refleksi Hasil Analisis Kritis
10. a. (        ) Identitas Naskah Kelima Analisis Kritis Artikel Jurnal/Internet
b. (        ) Naskah Artikel
c. (        ) Naskah Terjemahan
d. (        ) Hasil Analisis Kritis
e. (        ) Refleksi Hasil Analisis Kritis
11. a. (        ) Identitas Naskah Keenam Analisis Kritis Artikel Jurnal/Internet
b. (        ) Naskah Internet
c. (        ) Naskah Terjemahan
d. (        ) Hasil Analisis Kritis
e. (        ) Refleksi Hasil Analisis Kritis
12. a. (        ) Identitas Sejarah Penyusunan Proposal
b. (        ) Draft Masalah
c. (        ) Draft  Hipotesis
d. (        ) Draft Latar Belakang Masalah
e. (        ) Draft Kajian Pustaka
f.  (        ) Draft Rancangan Penelitian
g. (        ) Draft Rancangan Instrumen
h. (        ) Refleksi Diri tentang Penyusunan Proposal
13. (        ) Refleksi Akhir Semester
14. (        ) Penilaian Portofolio Diri Sendiri
apakah cukup objektif? _________

Komentar untuk kegiatan penilaian portofolio ini (tuliskan di sini, bila tidak cukup, lanjutkan di baliknya).




PENILAIAN PORTOFOLIO AKHIR SEMESTER OLEH DIRI SENDIRI/TEMAN/DOSEN

Kelas : ………    Program Studi : ……………….

Nama Pemilik Portofolio      : _______________________________
Nama Penilai                                                                                                                                                 : _______________________________
Tanggal                                                                                                                                                          : _______________________________

Berdasarkan pengecekan penyajian dan kelengkapan portofolio teman Saudara tersebut, berilah penilaian dengan melingkari angka yang sesuai, dari 1 (0 – 49, sangat kurang), 2 (50 – 65, kurang), 3 (66 – 74, cukup), 4 (75 – 90, baik) atau 5 (91 – 100, sangat baik) untuk setiap butir di bawah ini dan kalikan dengan bobotnya untuk memperoleh nilai akhir portofolio.

Untuk Portofolio Akhir Semester


Bo-bot
Nilai
Bobot X Nilai
1.
Kata Pengantar
5
1   2   3   4   5
……
2.
Daftar Isi
5
1   2   3   4   5
……
3.
Pendahuluan
10
1   2   3   4   5
……
4.
Jurnal Belajar
15
1   2   3   4   5
……
5.
Analisis Kritis Artikel I Jurnal/Internet
10
1   2   3   4   5
……
6.
Analisis Kritis Artikel II Jurnal/Internet
8
1   2   3   4   5
……
7.
Analisis Kritis Artikel III Jurnal/Internet
8
1   2   3   4   5
……
8.
Analisis Kritis Artikel IV Jurnal/Intrnet
8
1   2   3   4   5
……
9.
Analisis Kritis Artikel V Jurnal/Internet
8
1   2   3   4   5
……
10.
Analisis Kritis Artikel VI Jurnal/Intrnet
8
1   2   3   4   5
……
11.
Sejarah Perkembangan Proposal
10
1   2   3   4   5

12.
Refleksi Akhir Semester
5
1   2   3   4   5
……



Total


Kesimpulan: Nilai Akhir Portofolio     A   A-   B+  B   B-  C  D  E     (lingkari salah satu), dengan patokan E (100 – 150, sangat kurang sekali), D (151 – 200, sangat kurang),  C (201 – 250 kurang), B- ( 251 – 300, cukup), atau B (301 – 350,  agak                                 baik), B+ (351 – 400, baik), A- (401– 450, sangat baik),  A (451 – 500, istimewa)

Komentar untuk portofolio teman Saudara (tuliskan di sini, bila tidak cukup, lanjutkan di baliknya).



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar